22.05.2020
Hallo. Kali ini aku kembali memposting cerita di balik lukisan. Lukisan kali ini bukan lukisan lama, tapi justru lukisanku yang paling baru. Media yang aku gunakan adalah dinding kamar yang belum dicat. Lukisan ini menggunakan cat akrilik tanpa campuran air dengan menggunakan kuas.
Jika kita melihatnya sekilas, lukisan ini menyerupai pohon. Kakak iparku saat pertama kali melihatnya langsung menyimpulkan bahwa itu adalah pohon terbalik. Ada juga teman yang berpikir itu adalah dua pohon yang berbeda. Tidak masalah. Semua orang bebas memberi makna pada apa yang mereka lihat.
Tapi sejujurnya lukisan ini adalah ekspresi kegagalan. Biar aku ceritakan detailnya kenapa lukisan ini bisa terwujud. Saat itu tanggal 21 Mei 2020, waktu menunjukkan kurang lebih pukul 11 malam. Aku sedang berusaha mengunggah beberapa video di google Drive. Tapi karena jaringan internet yang tidak begitu bagus, maka aku harus menunggu cukup lama. Sambil menunggu, aku berusaha menghibur diri juga berupaya mendistrak pemikiran untuk tidur. Tapi agak sulit menahan kantuk, lalu aku melihat sisa cat akrilik yang ternyata masih lumayan banyak. Kuperiksa palet dan kuas yang juga masih dalam jangkauan tangan. Mereka semua masih bisa kujangkau tanpa perlu bangkit dari kasur. Andai mereka agak jauh, aku tidak akan bangkit. Terlalu merepotkan dan terlanjur nyaman dengan posisi rebahanku. Akupun melukis sambil berbaring. Sesekali ganti posisi. Tanpa sadar aku sudah duduk saja mungkin terbawa susasana.
Sampai akhirnya tanggal telah berganti menjadi tanggal 22 Mei 2020. Sayangnya unggahanku gagal. Tapi aku tidak menyerah. Aku mengunggah kembali fail video itu. Sambil menunggu, kulanjutkan lukisanku. Hingga aku tidak menyadari apa yang sedang kulukis. Aku berpasrah pada kuas, cat, dan tangan yang terus bergerak. Kubiarkan diriku berpasrah seperti seseorang yang menghanyutkan diri ke sungai. Biarlah arus ini mebawa sampai pemberhentian yang tidak diketahui. Biarlah aku terhenti dengan sendirinya, entah karena tersangkut atau terdampar, entah sampai ke muara atau jatuh pada sebuah air terjun. Lalu lukisan itu berakhir. Tanganku tak mau menyentuh kuas lagi. Sedangkan unggahanku belum juga selesai. Pukul 1 dini hari. Kuletakkan kuas, cat dan palet di samping kasur. Kubatalkan unggahanku. Lalu kuunggah satu video saja. Kutunggu beberapa menit dan berhasil. Sepertinya. Aku tidak begitu ingat apa yang terjadi selanjutnya. Semua jadi gelap. Lalu ayam berkokok. Aku terbangun.
Itulah cerita di balik terciptanya lukisan ini yang akhirnya kuberi nama "Menunggu". Tapi aku yakin, di antara kalian mungkin tidak begitu menyukai cerita di baliknya. Sepertinya kalian akan lebih menyukai penjelasanku tentang makna di balik lukisannya. Baiklah, akan aku jelaskan.
Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, setiap orang bebas memberi makna pada apa yang mereka lihat. Jadi, aku mengizinkan siapa saja membuat makna pada lukisan ini. Nah, aku pun punya makna tersendiri terhadap lukisan ini. Andai kita memperhatikannya seksama, pohon itu bisa terlihat agak simetris seperti jam pasir. Kenapa jadi jam pasir? Ini negara bebas, bung. Itu yang kurasakan saat melukis ini. Memang wujudnya pohon, tapi aku merasakannya sebagai jam pasir. Semua ini soal waktu.
Saat-saat menunggu, adalah saat-saat paling kelam, gelap dan tidak pasti. Seperi warna hitam pada lukisan itu. Aku bisa bilang begini karena aku sangat ahli dan berpengalaman soal menunggu. Bertahun-tahun pun bisa. Entah bagaimana bisa begitu, aku juga tidak begitu yakin. Tapi, meskipun kelam dan penuh ketidakpastian, justru saat-saat menunggu adalah saat-saat yang paling bisa dinikmati. Banyak yang bisa dilakukan sambil menunggu. Mungkin karena itu jugalah aku bisa menunggu sampai bertahun-tahun untuk sesuatu. Karena aku menunggu sambil melakukan banyak hal. Karena ketika kita menunggu sambil terus fokus pada apa yang kita tunggu, itu benar-benar menjenuhkan. Yakin dan percaya, kamu tidak akan sanggup menunggu terlalu lama jika caranya seperti itu.
Apa yang ada pada bagian atas lukisan juga merupakan waktu yang tersisa. Ada ketidakpastian di sana. Tentang berapa lama lagi harus menunggu. Ambigu, seperti akar atau ranting yang semakin sulit dibedakan, seperti akar serabut atau tunggang yang sudah tidak bisa dibedakan. Semua menjadi semakin tidak jelas. Tapi diantara ketidakpastian, ada batas yang bisa dilihat dengan jelas. warna bata menyerupai daun kering pada ranting-ranting tertua itu menjelaskan bahwa menunggu juga ada batasnya. Ketika batasnya sudah sampai, kita akan berhenti dengan sendirinya. Tapi percayalah menunggu itu tidak akan mengecewakan jika kamu sudah siap untuk kecewa.
Lihatlah daun-daun berwarna biru yang menutupi ranting itu. Memang bukan hanya biru, ada warna-warna lain seperti merah, kuning, bata, hijau, dan hitam. Namun biru lebih mendominasi. Itu adalah waktu yang sudah kita lewati. Jika kita menghargainya, menghargai waktu itu, menghargai saat-saat kelam itu, semuanya akan berubah jadi keharuan. Karena ketidakpastian akan menjadi pasti pada waktunya. Jadi, jangan menyesali apa yang sudah dilewati. Jika ada kekecewaan di sana, itu wajar. Tidak akan terasa kebahagiaan kalau tidak pernah merasakan sedih.
Jadi, menunggulah dengan bijak. Tunggu sampai tulisan ini selesai kamu baca. Kecewa dan bersedihlah seperlunya. Karena ini bukan seperti apa yang kamu pikirkan meski pun aku bilang kamu bebas berpikir apa saja. Setelah itu bahagialah dan bersyukurlah. Bahwa kamu sudah membaca tulisan ini, siapa tahu setelah itu kamu bisa lebih menghargai waktu dan menikmati setiap detik yang menyakitkan dalam hidupmu. Asik.

Komentar
Posting Komentar