Langsung ke konten utama

02. Renyah

Maba, akronim dari mahasiswa baru. Ketika kata "baru" disematkan, maka ada antusiasme yang mengikutinya. Begitu juga status maba yang kami sandang. Rasanya, semangat belajar sedang berkobar-kobarnya. Rasa ingin menjadi agen of change memaksa diri untuk berpikir kritis, sekedar agar bisa dianggap mahasiswa sejati. Dosen kadang tidak masuk. Membuat semangat belajar ini tidak bisa tersalurkan. Ada dua tipikal mahasiswa, mereka yang kritis atau ingin dianggap begitu, akan mengeluh dan mengungkapkan kepada yang lain bahwa dia merasa rugi sudah bayar SPP. Sementara golongan lain yang masih belum bisa melepaskan kebiasaannya di SMA, atau mereka yang tidak peduli dengan image kritis dan lain-lain itu justru akan bahagia. Saya sendiri memilih menjadi bunglon. Kepada mereka yang kritis, saya sepakat. Tapi kepada mereka yang tidak peduli, saya sepaket. Begitulah jiwa dan pikiranku memilih bercerai.

Beruntung imajinasi tidak pernah meninggalkan diriku, jadi perceraian jiwa dan pikiran tidak begitu mengguncang psikisku. Melihat segerombolan senior melangkah berbarengan membuat otakku menciptakan soundtrack seiring langkah mereka melewatiku. Sheila on 7 - Kisah klasik mengalun di kepalaku. Mereka lewat tanpa bercerita. Hanya diam, tapi mereka tetap terlihat sebagai satu kesatuan. Penampilan mereka sangat nyentrik. Mereka lewat dan seketika teman-teman seangkatanku yang memenuhi koridor menyingkir untuk membuka jalan. Wah, begitukah rasanya jadi senior. Kelihatannya enak.

Salah satu di antara mereka ada yang berbeda. Semuanya pakai jeans, kecuali dia. Apa dia dosen? Pikirku. Entahlah. Tapi saat dia menoleh sedikit, aku merasa pernah melihatnya. Ah, si wibu yang di mas siomai. Tidak. Gawat. Kalau dia dosen, itu gawat. Pikirku. Sambil mengingat jawabanku yang tidak sopan saat dia membicarakan nama panggilanku. Tapi, tidak mungkin dia dosen kan? Mungkin saja. Tidak. Aku memaksakan diri untuk yakin. Bahwa dia bukan dosen. Sudahlah. Lupakan, maba, wajar membuat kesalahan. Kau kan maba.

Renyah rasanya. Ingin belajar, tapi dosen tidak masuk. Renyah rasanya melihat rombongan senior lewat. Renyah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menunggu

22.05.2020 Hallo. Kali ini aku kembali memposting cerita di balik lukisan. Lukisan kali ini bukan lukisan lama, tapi justru lukisanku yang paling baru. Media yang aku gunakan adalah dinding kamar yang belum dicat. Lukisan ini menggunakan cat akrilik tanpa campuran air dengan menggunakan kuas. Jika kita melihatnya sekilas, lukisan ini menyerupai pohon. Kakak iparku saat pertama kali melihatnya langsung menyimpulkan bahwa itu adalah pohon terbalik. Ada juga teman yang berpikir itu adalah dua pohon yang berbeda. Tidak masalah. Semua orang bebas memberi makna pada apa yang mereka lihat. Tapi sejujurnya lukisan ini adalah ekspresi kegagalan. Biar aku ceritakan detailnya kenapa lukisan ini bisa terwujud. Saat itu tanggal 21 Mei 2020, waktu menunjukkan kurang lebih pukul 11 malam. Aku sedang berusaha mengunggah beberapa video di google Drive. Tapi karena jaringan internet yang tidak begitu bagus, maka aku harus menunggu cukup lama. Sambil menunggu, aku berusaha menghibur diri juga berupaya me...

Tugas Resume MK Komunikasi Politik

BAB V MEDIA POLITIK: SALURAN MASSA, INTERPERSONAL, DAN ORGANISASI Alat atau upaya yang yang digunakan untuk mengirimkan pesan ialah saluran dari ‘siapa mengatakan apa kepada siapa’. SALURAN KOMUNIKASI POLITIK Saluran komunikasi adalah alat serta sarana yang memudahkan penyampaian pesan. Menurut pendapat Kenneth Burke, saluran adalah ciptaan makhluk pemakai lambang untuk melancarkan saling tukar pesan. Saluran di sini bukan hanya alat dan sarana, tetapi juga manusia itu sendiri. Berbeda dengan saluran lain, manusia merupakan saluran yang aktif, selektif, tidak pasif dan netral. Otak manusia menyandikan kembali dan mentransformasi pesan, bukan mekanisme untuk pengalihan bersambung yang sederhana. Alat dan sarana berguna untuk memudahkan tapi bukan untuk menjamin ketepatan. Sebaliknya, bila dipikirkan bahwa pada dasarnya manusia juga adalah sarana, “maka saluran komunikasi itu lebih dari sekedar titik sambungan, tetapi terdiri atas pengertian bersama tentang siapa dapat ber...