Maba, akronim dari mahasiswa baru. Ketika kata "baru" disematkan, maka ada antusiasme yang mengikutinya. Begitu juga status maba yang kami sandang. Rasanya, semangat belajar sedang berkobar-kobarnya. Rasa ingin menjadi agen of change memaksa diri untuk berpikir kritis, sekedar agar bisa dianggap mahasiswa sejati. Dosen kadang tidak masuk. Membuat semangat belajar ini tidak bisa tersalurkan. Ada dua tipikal mahasiswa, mereka yang kritis atau ingin dianggap begitu, akan mengeluh dan mengungkapkan kepada yang lain bahwa dia merasa rugi sudah bayar SPP. Sementara golongan lain yang masih belum bisa melepaskan kebiasaannya di SMA, atau mereka yang tidak peduli dengan image kritis dan lain-lain itu justru akan bahagia. Saya sendiri memilih menjadi bunglon. Kepada mereka yang kritis, saya sepakat. Tapi kepada mereka yang tidak peduli, saya sepaket. Begitulah jiwa dan pikiranku memilih bercerai.
Beruntung imajinasi tidak pernah meninggalkan diriku, jadi perceraian jiwa dan pikiran tidak begitu mengguncang psikisku. Melihat segerombolan senior melangkah berbarengan membuat otakku menciptakan soundtrack seiring langkah mereka melewatiku. Sheila on 7 - Kisah klasik mengalun di kepalaku. Mereka lewat tanpa bercerita. Hanya diam, tapi mereka tetap terlihat sebagai satu kesatuan. Penampilan mereka sangat nyentrik. Mereka lewat dan seketika teman-teman seangkatanku yang memenuhi koridor menyingkir untuk membuka jalan. Wah, begitukah rasanya jadi senior. Kelihatannya enak.
Salah satu di antara mereka ada yang berbeda. Semuanya pakai jeans, kecuali dia. Apa dia dosen? Pikirku. Entahlah. Tapi saat dia menoleh sedikit, aku merasa pernah melihatnya. Ah, si wibu yang di mas siomai. Tidak. Gawat. Kalau dia dosen, itu gawat. Pikirku. Sambil mengingat jawabanku yang tidak sopan saat dia membicarakan nama panggilanku. Tapi, tidak mungkin dia dosen kan? Mungkin saja. Tidak. Aku memaksakan diri untuk yakin. Bahwa dia bukan dosen. Sudahlah. Lupakan, maba, wajar membuat kesalahan. Kau kan maba.
Renyah rasanya. Ingin belajar, tapi dosen tidak masuk. Renyah rasanya melihat rombongan senior lewat. Renyah.
Komentar
Posting Komentar