Langsung ke konten utama

Dasar-Dasar Jurnalistik: Hasil Wawancara Jurnalis



Minggu, 13 Oktober 2013
JURNALIS:
PANGGILAN JIWA
Oleh : Kelompok IV
Tiga tahun menjadi jurnalis, bagi seorang Yusuf sama seperti baru kemarin sore. Alumni UNISA jurusan Tarbiah ini mengaku sudah mencoba banyak pekerjaan, mulai dari yang halal sampai yang haram, mulai dari kuli bangunan sampai pegawai honorer. Namun ia baru menemukan jati dirinya di dunia jurnalis. Pria bernama lengkap Yusuf Sagoba, S.Pd.I ini mengawali karir di dunia jurnalis sebagai seorang loper koran pada tahun 2010. Kemudian ia diangkat menjadi sirkulasi koran, tidak lama kemudian ia menjadi kepala Pemasaran. Setelah itu, ia ditarik ke bagian redaksi dan menjadi reporter Media Al Khairaat hingga saat ini. Baginya, jurnalis bukanlah sebuah profesi, melainkan panggilan jiwa.
Selain meliput berita, pria yang dulunya aktif di LSM ini sekarang lebih sering berkunjung ke pelosok-pelosok untuk mencari anak-anak yang terlantar untuk dimasukkan ke panti asuhan agar bisa di sekolahkan. Selain itu, untuk mengurangi jumlah pengangguran, ia juga memberi modal dan tempat untuk ibu-ibu berdagang di seputaran Pantai Talise.
Reporter satu ini mengakui bahwa menjadi seorang jurnalis bukan hal mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Misalnya menjadi sasaran kritik bagi orang-orang berkuasa yang merasa dirugikan atas sebuah pemberitaan. Bahkan ia pernah diiming-imingi uang oleh sebuah perusahaan agar tidak memberitakan sengketa lahan yang menguak keburukan citra perusahaan tersebut. Namun meski jumlah uangnya terbilang tidak sedikit, ia menolak. “Biarlah saya susah dan miskin, tapi saya tidak akan menjual idealisme saya!” Tegasnya.
Secara blak-blakan Yusuf mengaku pernah ingin jadi Gubernur seperti cita-citanya sewaktu SD,  agar bisa merubah sistem pemerintahan yang  amburadul, yang tidak berakhlak, yang malas, yang suka membohongi rakyat.





Minggu, 13 Oktober 2013
HOBI MENULIS
AKHIRNYA JADI JURNALIS
Oleh : Kelompok IV
Menjadi jurnalis awalnya bukanlah cita-cita bagi Nurdiansyah.  Pria yang kerap disapa Nanang ini dulunya kuliah di Universitas Tadulako Jurusan Administrasi Negara, lalu pindah ke STMIK Bina Mulia hingga studinya selesai. Pria yang kini adalah seorang editor Media Al Khairaat ini awalnya hanya suka menulis, namun belum memiliki rasa ingin tahu yang besar. Karena ingin terus mengembangkan minat menulisnya, maka ia pun memutuskan untuk menjadi seorang jurnalis.
Menurut Nanang, tugasnya sebagai editor membutuhkan kekuatan secara fisik. Karena banyaknya berita yang masuk dan harus diedit lagi dari segi konten, Apakah isinya layak diterbitkan? Apakah sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik atau tidak? Selain itu juga dari segi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), jangan sampai ada huruf yang salah, kurang atau lebih. “Terkadang terjadi kesalahan dalam mengedit, kekurangan atau kelebihan huruf.” Ungkapnya.
Tantangan lain sebagai editor, adalah kekhawatiran kalau-kalau reporter tidak melakukan wawancara tetapi beritanya diterbitkan. Karena biasanya kesalahan reporter akan berimbas pada editor juga. Untungnya Media Alkhairaat lebih mengutamakan kekeluargaan, sehingga kecil kemungkinan terjadi konflik, namun tetap saja jika ada kesalahan, maka pimpinan redaksi akan tegas.
Menurut Nanang ia tidak mungkin selamanya jadi jurnalis. Namun ia akan tetap memberi kontribusi kepada regenerasi selanjutnya, dengan harapan bahwa kedepannya akan banyak regenerasi jurnalis yang berkualitas, agar dinamika jurnalis semakin berkembang dengan baik.





 Sabtu, 26 Oktober 2013


Ingin Kembangkan Palu Lewat Liputan
Oleh : Kelompok IV
Masyarakat pada umumnya senantiasa mengharapkan yang terbaik untuk kotanya. Begitu pula harapan Moh.Rifki untuk kota Palu. Hal inilah yang memotivasinya untuk menjadi seorang jurnalis. “Saya ingin mengembangkan kota Palu dalam bidang pembangunan, pariwisata dan lain-lain melalui peliputan di daerah-daerah kota Palu.” Ungkap wartawan Nuansa Pos ini.
Lulusan SMKN 2 Palu jurusan Broadcasting tahun 2012 ini bercita-cita kedepannya ingin menjadi wartawan profesional. Diakuinya bahwa meskipun profesinya saat ini sesuai dengan latar belakang pendidikannya, namun tantangan selalu ada. Panas matahari saat meliput berita adalah problema yang paling sering dialaminya.




 Sabtu, 26 Oktober 2013
Jurnalis Muda: Rangga Musabar Saputra

 Oleh : Kelompok IV

Lulusan SMKN 2 Palu jurusan Broadcasting tahun 2012, Rangga Musabar Saputra langsung menjadi wartawan.  Menurut rangga profesi jurnalis ini sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Inilah salah satu alasannya menjadi jurnalis. Rasa ingin tahu yang besar terhadap tugas seorang wartawan menjadi motivasinya untuk berkecimpung di bidang ini.
Menjadi jurnalis bukan hal mudah bagi wartawan muda ini. “Kadang-kadang ada yang tidak suka. Tapi kita harus berani, tidak boleh berhenti sampai di situ.” Ujarnya. Meski profesinya memiliki banyak tantangan, namun pria berumur 19 tahun ini tetap berharap dapat tetap bertahan sebagai wartawan dan bahkan ingin menjadi wartawan yang dikenal seluruh Indonesia. Wartawan Nuansa Tv ini mengungkapkan keinginannya untuk menjadi wartawan Televisi swasta nasional.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menunggu

22.05.2020 Hallo. Kali ini aku kembali memposting cerita di balik lukisan. Lukisan kali ini bukan lukisan lama, tapi justru lukisanku yang paling baru. Media yang aku gunakan adalah dinding kamar yang belum dicat. Lukisan ini menggunakan cat akrilik tanpa campuran air dengan menggunakan kuas. Jika kita melihatnya sekilas, lukisan ini menyerupai pohon. Kakak iparku saat pertama kali melihatnya langsung menyimpulkan bahwa itu adalah pohon terbalik. Ada juga teman yang berpikir itu adalah dua pohon yang berbeda. Tidak masalah. Semua orang bebas memberi makna pada apa yang mereka lihat. Tapi sejujurnya lukisan ini adalah ekspresi kegagalan. Biar aku ceritakan detailnya kenapa lukisan ini bisa terwujud. Saat itu tanggal 21 Mei 2020, waktu menunjukkan kurang lebih pukul 11 malam. Aku sedang berusaha mengunggah beberapa video di google Drive. Tapi karena jaringan internet yang tidak begitu bagus, maka aku harus menunggu cukup lama. Sambil menunggu, aku berusaha menghibur diri juga berupaya me...

02. Renyah

Maba, akronim dari mahasiswa baru. Ketika kata "baru" disematkan, maka ada antusiasme yang mengikutinya. Begitu juga status maba yang kami sandang. Rasanya, semangat belajar sedang berkobar-kobarnya. Rasa ingin menjadi agen of change memaksa diri untuk berpikir kritis, sekedar agar bisa dianggap mahasiswa sejati. Dosen kadang tidak masuk. Membuat semangat belajar ini tidak bisa tersalurkan. Ada dua tipikal mahasiswa, mereka yang kritis atau ingin dianggap begitu, akan mengeluh dan mengungkapkan kepada yang lain bahwa dia merasa rugi sudah bayar SPP. Sementara golongan lain yang masih belum bisa melepaskan kebiasaannya di SMA, atau mereka yang tidak peduli dengan image kritis dan lain-lain itu justru akan bahagia. Saya sendiri memilih menjadi bunglon. Kepada mereka yang kritis, saya sepakat. Tapi kepada mereka yang tidak peduli, saya sepaket. Begitulah jiwa dan pikiranku memilih bercerai. Beruntung imajinasi tidak pernah meninggalkan diriku, jadi perceraian jiwa dan pikiran t...

Tugas Resume MK Komunikasi Politik

BAB V MEDIA POLITIK: SALURAN MASSA, INTERPERSONAL, DAN ORGANISASI Alat atau upaya yang yang digunakan untuk mengirimkan pesan ialah saluran dari ‘siapa mengatakan apa kepada siapa’. SALURAN KOMUNIKASI POLITIK Saluran komunikasi adalah alat serta sarana yang memudahkan penyampaian pesan. Menurut pendapat Kenneth Burke, saluran adalah ciptaan makhluk pemakai lambang untuk melancarkan saling tukar pesan. Saluran di sini bukan hanya alat dan sarana, tetapi juga manusia itu sendiri. Berbeda dengan saluran lain, manusia merupakan saluran yang aktif, selektif, tidak pasif dan netral. Otak manusia menyandikan kembali dan mentransformasi pesan, bukan mekanisme untuk pengalihan bersambung yang sederhana. Alat dan sarana berguna untuk memudahkan tapi bukan untuk menjamin ketepatan. Sebaliknya, bila dipikirkan bahwa pada dasarnya manusia juga adalah sarana, “maka saluran komunikasi itu lebih dari sekedar titik sambungan, tetapi terdiri atas pengertian bersama tentang siapa dapat ber...