Langsung ke konten utama

Dongeng Serangga Padang Rumput



 Serangga Padang Rumput
Di sebuah padang rumput yang luas, hiduplah beragam serangga yang di pimpin ole h seekor belalang bernama Ancale. Sebagai raja, Ancale sangat mencintai rakyatnya, para serangga. Ancale terkenal akan keramahannya, sehingga hubungan kerajaan serangga dengan hewan-hewan lain di padang rumput sangat baik. Namun, Ancale adalah pribadi yang terlalu naif. Tapi itu bukan masalah bagi rakyat serangga karena Ancale mampu membangun kerajaan serangga yang makmur, tidak ada yang kaya dan tidak ada yang miskin, namun semua hidup berkecukupan.
Suatu hari, sepupu jauh Ancale datang berkunjung. Sepupunya itu tidak lain adalah seekor kumbang tanduk bernama Bogo. Bogo adalah serangga angkuh yang menganggap dirinya paling kuat dan hebat karena memiliki tubuh gagah dan lebih besar daripada serangga lain. Kedatangan Bogo disambut baik oleh Ancale. “Hohoho, saudaraku, sudah lama kita tidak bertemu.” Sambut Ancale sambil memeluk Bogo.
“Yah, sudah lama sekali. Sekarang kau terlihat lebih kecil dan tidak gagah.” Ungkap Bogo dengan angkuh.
“Benarkah?”
“Yah, tentu saja jika dibandingkan dengan otot-ototku yang luar biasa ini. Oh lihatlah tandukku yang mempesona ini. Tidakkah kau iri?”
“Hohoho, iya saudaraku kau nampak gagah, aku sungguh iri.” Jawab Ancale berbesar hati.
Ancale sangat senang mendapat kunjungan dari Bogo. Sehingga ia pun memperkenalkan Bogo kepada seluruh rakyat kerajaan serangga. Mereka pun bersorak gembira, beberapa di antara serangga mengagumi kegagahan Bogo. Mereka memuji otot dan tanduk Bogo yang sangat menakjubkan. Namun, pujian-pujian itu berubah setelah mereka melihat perlakuan Bogo pada serangga-serangga lain. Tanpa sepengetahuan Ancale, Bogo merampas cadangan makanan para semut, mencuri madu para lebah, dan memperlakukan para serangga sebagai budak dengan alasan ia adalah sepupu sang raja Ancale yang harus dihormati.
Perlakuan Bogo yang sangat tidak berperikeseranggaan membuat rakyat sengsara. Banyak serangga kelaparan, sakit, bahkan ada yang mati. Namun, para serangga tidak bisa berbuat apa-apa, karena bagaimanapun juga, Bogo adalah sepupu Sang Raja Ancale. Mereka hanya bisa meratapi semua yang terjadi. Sementara itu, Ancale bingung dengan keadaan kerajaan serangga yang semakin memperihatinkan.
Tidak puas dengan membuat sengsara para serangga, Bogo malah semakin menjadi-jadi. Timbul keingin Bogo untuk menggantikan Ancale sebagai raja.
“Saudaraku,  apakah kau tidak malu? Lihatlah rakyatmu sengsara. Ini semua karena kau tidak mampu menjadi raja.”
Mendengar itu, Ancale hanya diam dan termenung. Terlihat raut kesedihan di wajahnya.
“Kau harus melakukan sesuatu. Apa kau tega melihat rakyatmu sengsara?”
“Tidak, saudaraku. Aku tidak mungkin tega melihat kesengsaraan rakyatku. Tapi apa yang harus kulakukan?”
“Sebenarnya aku punya satu solusi. Tapi aku tidak yakin kau akan setuju.”
“Apa itu? Sebutkan saja. Aku akan berbuat apa saja demi kesejahteraan rakyatku.”
“Benarkah? Kau yakin?”
“Ya, Aku yakin. Katakanlah.”
“Baiklah jika kau memaksa.” Jawab Bogo “Saudaraku, sepertinya kau harus mundur sebagai raja. Kau harus membiarkan serangga kuat dan gagah untuk menjadi raja menggantikanmu. Dengan begitu, kerajaanmu pasti akan kembali makmur.” Lanjut bogo lagi.
“Apakah itu adalah solusi yang tepat?”
“Tentu saja. Apa kau ragu?”
“Tidak, saudaraku. Aku percaya padamu. Tapi serangga mana yang bersedia menggantikanku.”
“Kau tidak usah risau. Aku bersedia melakukannya untukmu dan kerajaan serangga ini.”
“Oh saudaraku, kau sungguh bijaksana. Baiklah, besok aku akan mengumumkan ini kepada seluruh serangga.”
Mendengar itu, Bogo tersenyum licik.
Keesokan harinya, Ancale mengumpulkan seluruh serangga dan mengumumkan bahwa dia bukan lagi raja serangga dan Bogolah yang akan menggantikannya.
“Rakyatku, serangga-serangga yang kucintai, aku sangat sedih dengan keadaan kerajaan kita yang semakin memperihatinkan. Untuk itu, aku memutuskan, bahwa kita harus dipimpin oleh serangga kuat. Tapi jangan khawatir, kita telah menemukannya. Dia adalah Bogo, sepupuku yang perkasa.”
Seluruh serangga terkejut. Mereka bersorak tidak setuju. Namun, kepolosan Ancale membuatnya berpikir bahwa rakyatnya bersorak gembira.
“Syukurlah jika kalian gembira. Dengan ini mari kita sambut raja baru kita, Bogo!”
Setelah Bogo jadi raja, ia mengusir Ancale dari Istana. Ia pun menjadi raja yang serakah. Sementara Ancale hidup sederhana bersama serangga-serangga lain. Banyak serangga yang mengeluh dan bertanya kepada Ancale, “Mengapa kau mundur dan menjadikan Bogo sebagai Raja?” Ancale hanya bisa menjawab bahwa itu semua demi kebaikan para serangga. Namun, para serangga malah menceritakan kepada Ancale, bahwa yang membuat kerajaan serangga menjadi seperti ini adalah Bogo.
Mendengar cerita dari para serangga, Ancale pun menjadi geram. Ia menyadari betapa polosnya ia selama ini. “Betapa bodohnya aku. Mengapa aku percaya begitu saja pada Bogo.” Ancale pun mulai mengerahkan rakyat serangga untuk mengalahkan pemerintahan Bogo yang kejam. “Meskipun kita kecil, tapi bukan berarti kita lemah.”
Seekor serangga bertanya “Lalu apa yang harus kita lakukan?”
“Apa kita harus merebut kekuasaan Bogo?”
“Apa kita akan menggantungnya?”
“Atau kita penjarakan saja?”
“Tidak, teman-teman. Jika kita melakukan itu maka kita sama saja dengan Bogo, sama-sama kejam.”
“Lalu kita harus bagaimana?”
“Mari kita bangun Kerajaan baru di Padang yang kita cintai ini.”
Semua serangga pun setuju dan mulai membangun kerajaan baru. Sementara itu Bogo, si raja kejam tinggal seorang diri di Istana yang lama tanpa punya rakyat seekor pun. Ia hidup sendiri, dan akhirnya tersadar bahwa ia tidak sanggup hidup tanpa yang lain. Ia juga butuh teman. Ia menyesal telah berbuat jahat pada sepupunya sendiri, dan membuat rakyat sengsara. Ia pun mencari dan terus mencari hingga ia menemukan kerajaan baru para serangga. Awalnya ia ditolak, namun atas kebaikan hati raja Ancale, maka ia diterima kembali oleh kerajaan serangga. Ia pun berjanji tidak akan menjadi serangga angkuh lagi, ia akan berusaha memperbaiki dirinya agar menjadi serangga yang baik. Pada akhirnya semua serangga hidup bahagia bersama Raja Ancale yang baik hati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menunggu

22.05.2020 Hallo. Kali ini aku kembali memposting cerita di balik lukisan. Lukisan kali ini bukan lukisan lama, tapi justru lukisanku yang paling baru. Media yang aku gunakan adalah dinding kamar yang belum dicat. Lukisan ini menggunakan cat akrilik tanpa campuran air dengan menggunakan kuas. Jika kita melihatnya sekilas, lukisan ini menyerupai pohon. Kakak iparku saat pertama kali melihatnya langsung menyimpulkan bahwa itu adalah pohon terbalik. Ada juga teman yang berpikir itu adalah dua pohon yang berbeda. Tidak masalah. Semua orang bebas memberi makna pada apa yang mereka lihat. Tapi sejujurnya lukisan ini adalah ekspresi kegagalan. Biar aku ceritakan detailnya kenapa lukisan ini bisa terwujud. Saat itu tanggal 21 Mei 2020, waktu menunjukkan kurang lebih pukul 11 malam. Aku sedang berusaha mengunggah beberapa video di google Drive. Tapi karena jaringan internet yang tidak begitu bagus, maka aku harus menunggu cukup lama. Sambil menunggu, aku berusaha menghibur diri juga berupaya me...

02. Renyah

Maba, akronim dari mahasiswa baru. Ketika kata "baru" disematkan, maka ada antusiasme yang mengikutinya. Begitu juga status maba yang kami sandang. Rasanya, semangat belajar sedang berkobar-kobarnya. Rasa ingin menjadi agen of change memaksa diri untuk berpikir kritis, sekedar agar bisa dianggap mahasiswa sejati. Dosen kadang tidak masuk. Membuat semangat belajar ini tidak bisa tersalurkan. Ada dua tipikal mahasiswa, mereka yang kritis atau ingin dianggap begitu, akan mengeluh dan mengungkapkan kepada yang lain bahwa dia merasa rugi sudah bayar SPP. Sementara golongan lain yang masih belum bisa melepaskan kebiasaannya di SMA, atau mereka yang tidak peduli dengan image kritis dan lain-lain itu justru akan bahagia. Saya sendiri memilih menjadi bunglon. Kepada mereka yang kritis, saya sepakat. Tapi kepada mereka yang tidak peduli, saya sepaket. Begitulah jiwa dan pikiranku memilih bercerai. Beruntung imajinasi tidak pernah meninggalkan diriku, jadi perceraian jiwa dan pikiran t...

Tugas Resume MK Komunikasi Politik

BAB V MEDIA POLITIK: SALURAN MASSA, INTERPERSONAL, DAN ORGANISASI Alat atau upaya yang yang digunakan untuk mengirimkan pesan ialah saluran dari ‘siapa mengatakan apa kepada siapa’. SALURAN KOMUNIKASI POLITIK Saluran komunikasi adalah alat serta sarana yang memudahkan penyampaian pesan. Menurut pendapat Kenneth Burke, saluran adalah ciptaan makhluk pemakai lambang untuk melancarkan saling tukar pesan. Saluran di sini bukan hanya alat dan sarana, tetapi juga manusia itu sendiri. Berbeda dengan saluran lain, manusia merupakan saluran yang aktif, selektif, tidak pasif dan netral. Otak manusia menyandikan kembali dan mentransformasi pesan, bukan mekanisme untuk pengalihan bersambung yang sederhana. Alat dan sarana berguna untuk memudahkan tapi bukan untuk menjamin ketepatan. Sebaliknya, bila dipikirkan bahwa pada dasarnya manusia juga adalah sarana, “maka saluran komunikasi itu lebih dari sekedar titik sambungan, tetapi terdiri atas pengertian bersama tentang siapa dapat ber...