Langsung ke konten utama

Esai? Atau Curhat?



Name.png
Assalamu alaikum,
Setiap saya mencoba menulis sebuah karya fiksi, saya selalu berusaha melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Begitu pula cara saya menulis. Sesunggunya saya belum menemukan ciri khas yang bisa mewakili karakter saya. Terkadang saya menulis dengan bahasa sastrawi, terkadang malah terlalu formal, tapi kadang-kadang menulis dengan dialek kaili menjadi sebuah pilihan yang unik bagi saya. Sejujurnya orang tua saya bukan orang kaili, keduanya orang bugis, tapi lahir dan tinggal di sini, apa itu tidak cukup bagi saya untuk disebut sebagai orang kaili? Mungkin tidak, mungkin juga iya. Tapi apapun pilihannya, minumnya teh botol sosro.
Gaya bahasa dalam menulislah yang akhirnya mengantarkan saya pada sebuah titik terang bahwa mencari gaya bahasa yang tepat dalam menulis sama halnya dengan mencari jati diri. Ada tahapan dan prosesnya. Semua butuh waktu. Tapi saya yakin, bahwa jati diri adalah sesuatu yang muncul dari dalam diri dan tidak dibuat-buat. Sesuatu yang akhirnya membuat kita nyaman. Mungkin itu juga sama halnya dengan menulis. Gaya bahasa apa pun yang kita pakai, jika kita nyaman maka pesan yang kita ingin kita sampaikan biasanya akan mudah diterima oleh pembaca. Tapi kenyamanan pembaca juga mungkin tidak bisa diabaikan.
Inspirasi juga tidak selalu datang. Inilah yang membuat saya tidak selalu menulis. Tetapi hanya menulis saat ada sesuatu yang dirasa menarik. Seperti pada lembaran terakhir ini, saya tidak tahu lagi mau menceritakan pengalaman yang mana. Akhirnya saya malah curhat. Tapi curhat itu dapat mengurangi beban pikiran, jadi tidak ada salahnya. Intinya saya menulis.
Saya sendiri berharap suatu saat saya bisa jadi penulis. Meski kemampuan saya masih di bawah rata-rata, tapi pepatah mengatakan “Dimana ada kemauan, di situ ada jalan.” Begitu kalau tidak salah. Makanya saya bertekat untuk terus belajar menulis mulai dari sekarang. Karena rasa-srsanya saya masih banyak ketinggalan dari teman-teman yang lain. Terutama masalah EYD yang masih kacau.
Sekian tulisan saya ini, entah ini disebut esai atau curhat. Karena bingung, saya pun menjadikannya sebagai sebuah judul. Akhirul kalam, saya ingin mengutip sebuah pantun dari negeri seseorang yang entah siapa. Beliau mengatakan “Mobil Taufik meluncur tak berdaya, yang salah dibenahi satu persatu. Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menunggu

22.05.2020 Hallo. Kali ini aku kembali memposting cerita di balik lukisan. Lukisan kali ini bukan lukisan lama, tapi justru lukisanku yang paling baru. Media yang aku gunakan adalah dinding kamar yang belum dicat. Lukisan ini menggunakan cat akrilik tanpa campuran air dengan menggunakan kuas. Jika kita melihatnya sekilas, lukisan ini menyerupai pohon. Kakak iparku saat pertama kali melihatnya langsung menyimpulkan bahwa itu adalah pohon terbalik. Ada juga teman yang berpikir itu adalah dua pohon yang berbeda. Tidak masalah. Semua orang bebas memberi makna pada apa yang mereka lihat. Tapi sejujurnya lukisan ini adalah ekspresi kegagalan. Biar aku ceritakan detailnya kenapa lukisan ini bisa terwujud. Saat itu tanggal 21 Mei 2020, waktu menunjukkan kurang lebih pukul 11 malam. Aku sedang berusaha mengunggah beberapa video di google Drive. Tapi karena jaringan internet yang tidak begitu bagus, maka aku harus menunggu cukup lama. Sambil menunggu, aku berusaha menghibur diri juga berupaya me...

02. Renyah

Maba, akronim dari mahasiswa baru. Ketika kata "baru" disematkan, maka ada antusiasme yang mengikutinya. Begitu juga status maba yang kami sandang. Rasanya, semangat belajar sedang berkobar-kobarnya. Rasa ingin menjadi agen of change memaksa diri untuk berpikir kritis, sekedar agar bisa dianggap mahasiswa sejati. Dosen kadang tidak masuk. Membuat semangat belajar ini tidak bisa tersalurkan. Ada dua tipikal mahasiswa, mereka yang kritis atau ingin dianggap begitu, akan mengeluh dan mengungkapkan kepada yang lain bahwa dia merasa rugi sudah bayar SPP. Sementara golongan lain yang masih belum bisa melepaskan kebiasaannya di SMA, atau mereka yang tidak peduli dengan image kritis dan lain-lain itu justru akan bahagia. Saya sendiri memilih menjadi bunglon. Kepada mereka yang kritis, saya sepakat. Tapi kepada mereka yang tidak peduli, saya sepaket. Begitulah jiwa dan pikiranku memilih bercerai. Beruntung imajinasi tidak pernah meninggalkan diriku, jadi perceraian jiwa dan pikiran t...

Tugas Resume MK Komunikasi Politik

BAB V MEDIA POLITIK: SALURAN MASSA, INTERPERSONAL, DAN ORGANISASI Alat atau upaya yang yang digunakan untuk mengirimkan pesan ialah saluran dari ‘siapa mengatakan apa kepada siapa’. SALURAN KOMUNIKASI POLITIK Saluran komunikasi adalah alat serta sarana yang memudahkan penyampaian pesan. Menurut pendapat Kenneth Burke, saluran adalah ciptaan makhluk pemakai lambang untuk melancarkan saling tukar pesan. Saluran di sini bukan hanya alat dan sarana, tetapi juga manusia itu sendiri. Berbeda dengan saluran lain, manusia merupakan saluran yang aktif, selektif, tidak pasif dan netral. Otak manusia menyandikan kembali dan mentransformasi pesan, bukan mekanisme untuk pengalihan bersambung yang sederhana. Alat dan sarana berguna untuk memudahkan tapi bukan untuk menjamin ketepatan. Sebaliknya, bila dipikirkan bahwa pada dasarnya manusia juga adalah sarana, “maka saluran komunikasi itu lebih dari sekedar titik sambungan, tetapi terdiri atas pengertian bersama tentang siapa dapat ber...