Assalamu alaikum,
Setiap saya mencoba menulis sebuah karya fiksi, saya selalu berusaha
melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Begitu pula cara saya menulis.
Sesunggunya saya belum menemukan ciri khas yang bisa mewakili karakter saya.
Terkadang saya menulis dengan bahasa sastrawi, terkadang malah terlalu formal,
tapi kadang-kadang menulis dengan dialek kaili menjadi sebuah pilihan yang unik
bagi saya. Sejujurnya orang tua saya bukan orang kaili, keduanya orang bugis,
tapi lahir dan tinggal di sini, apa itu tidak cukup bagi saya untuk disebut
sebagai orang kaili? Mungkin tidak, mungkin juga iya. Tapi apapun pilihannya,
minumnya teh botol sosro.
Gaya bahasa dalam menulislah yang akhirnya mengantarkan saya pada sebuah
titik terang bahwa mencari gaya bahasa yang tepat dalam menulis sama halnya
dengan mencari jati diri. Ada tahapan dan prosesnya. Semua butuh waktu. Tapi
saya yakin, bahwa jati diri adalah sesuatu yang muncul dari dalam diri dan
tidak dibuat-buat. Sesuatu yang akhirnya membuat kita nyaman. Mungkin itu juga
sama halnya dengan menulis. Gaya bahasa apa pun yang kita pakai, jika kita
nyaman maka pesan yang kita ingin kita sampaikan biasanya akan mudah diterima
oleh pembaca. Tapi kenyamanan pembaca juga mungkin tidak bisa diabaikan.
Inspirasi juga tidak selalu datang. Inilah yang membuat saya tidak selalu
menulis. Tetapi hanya menulis saat ada sesuatu yang dirasa menarik. Seperti
pada lembaran terakhir ini, saya tidak tahu lagi mau menceritakan pengalaman
yang mana. Akhirnya saya malah curhat. Tapi curhat itu dapat mengurangi beban
pikiran, jadi tidak ada salahnya. Intinya saya menulis.
Saya sendiri berharap suatu saat saya bisa jadi penulis. Meski kemampuan
saya masih di bawah rata-rata, tapi pepatah mengatakan “Dimana ada kemauan, di
situ ada jalan.” Begitu kalau tidak salah. Makanya saya bertekat untuk terus
belajar menulis mulai dari sekarang. Karena rasa-srsanya saya masih banyak
ketinggalan dari teman-teman yang lain. Terutama masalah EYD yang masih kacau.
Sekian tulisan saya ini, entah ini disebut esai atau curhat. Karena
bingung, saya pun menjadikannya sebagai sebuah judul. Akhirul kalam, saya ingin
mengutip sebuah pantun dari negeri seseorang yang entah siapa. Beliau
mengatakan “Mobil Taufik meluncur tak berdaya, yang salah dibenahi satu
persatu. Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu alaikum warahmatullahi
wabarakatuh”

Komentar
Posting Komentar