Assalamu alaikum,
Sebenarnya saya tidak
tahu harus menulis apa hari ini. Tapi saya mencoba mengulik masa lalu dan
mengutak-atik memori saya hingga saya menemukan sebuah pengalaman yang mungkin
bisa untuk diceritakan, meskipun agak klise. Tapi saya mencoba menuangkannya ke
paragraf demi paragraf dalam halaman ini.
Ini cerita pengalaman
saya ketika SD. Waktu itu saya sangat polos. Untuk pertama kalinya saya mau
dekat dengan lawan jenis. Karena hanya dia anak laki-laki yang pintar di kelas,
yang lain Cuma sekumpulan anak laki-laki yang nakal dan suka bermain. Teman
saya yang saya sebut-sebut sebagai anak laki-laki yang pintar itu, namanya
Dayat. Secara fisik dia juga sangat menarik, bersih, putih, matanya cokelat,
dan bibirnya merah, hanya saja dia kurang tinggi.
Saat itu kami duduk
bersebelahan smbil menerima pelajaran dari ibu Voni. Seorang guru yang sangat
luwes, cantik dan tidak pernah melupakan latar belakang budayanya. Ini terbukti
dari logat Manadonya yang tidak pernah lepas.
“Kiapa nga Cuma bacerita
di belakang?” tanyanya pada temanku yang duduk paling belakang.
Kalau sudah begini, pasti
kami langsung menengok kebelakang secara serempak. Menatap tajam pada dua teman
saya yang duduk sebangku, Aco dan Ismi. Mereka memang selalu menceritakan
hal-hal yang tidak penting. Berbeda dengan saya dan Dayat yang selalu membahas
pelajaran dengan serius.
Sebagai anak yang terbilang polos, kami tidak
pernah canggung dengan lawan jenis. Sampai kejadian itu terjadi. Tiba-tiba saya
merasa ada getar-getar yang aneh. Saya sendiri tidak bisa mengartikannya secara
gamblang. Tapi saya ingat sekali, saat itu bukan Cuma batinku yang bergetar,
bahkan papan tulis, meja, kursi dan dinding serasa ikut bergetar. Sampai semua
teman-teman saya berteriak histeris dan berlarian keluar kelas, saya baru
menyadari, bahwa getar-getar itu bukan karena Dayat. Tapi karena ada gempa
dahsyat (di tahun 2005 silam).

Komentar
Posting Komentar