Langsung ke konten utama

Getar-Getar?



Name.png
Assalamu alaikum,
Sebenarnya saya tidak tahu harus menulis apa hari ini. Tapi saya mencoba mengulik masa lalu dan mengutak-atik memori saya hingga saya menemukan sebuah pengalaman yang mungkin bisa untuk diceritakan, meskipun agak klise. Tapi saya mencoba menuangkannya ke paragraf demi paragraf dalam halaman ini.
Ini cerita pengalaman saya ketika SD. Waktu itu saya sangat polos. Untuk pertama kalinya saya mau dekat dengan lawan jenis. Karena hanya dia anak laki-laki yang pintar di kelas, yang lain Cuma sekumpulan anak laki-laki yang nakal dan suka bermain. Teman saya yang saya sebut-sebut sebagai anak laki-laki yang pintar itu, namanya Dayat. Secara fisik dia juga sangat menarik, bersih, putih, matanya cokelat, dan bibirnya merah, hanya saja dia kurang tinggi.
Saat itu kami duduk bersebelahan smbil menerima pelajaran dari ibu Voni. Seorang guru yang sangat luwes, cantik dan tidak pernah melupakan latar belakang budayanya. Ini terbukti dari logat Manadonya yang tidak pernah lepas.
“Kiapa nga Cuma bacerita di belakang?” tanyanya pada temanku yang duduk paling belakang.
Kalau sudah begini, pasti kami langsung menengok kebelakang secara serempak. Menatap tajam pada dua teman saya yang duduk sebangku, Aco dan Ismi. Mereka memang selalu menceritakan hal-hal yang tidak penting. Berbeda dengan saya dan Dayat yang selalu membahas pelajaran dengan serius.
 Sebagai anak yang terbilang polos, kami tidak pernah canggung dengan lawan jenis. Sampai kejadian itu terjadi. Tiba-tiba saya merasa ada getar-getar yang aneh. Saya sendiri tidak bisa mengartikannya secara gamblang. Tapi saya ingat sekali, saat itu bukan Cuma batinku yang bergetar, bahkan papan tulis, meja, kursi dan dinding serasa ikut bergetar. Sampai semua teman-teman saya berteriak histeris dan berlarian keluar kelas, saya baru menyadari, bahwa getar-getar itu bukan karena Dayat. Tapi karena ada gempa dahsyat (di tahun 2005 silam).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menunggu

22.05.2020 Hallo. Kali ini aku kembali memposting cerita di balik lukisan. Lukisan kali ini bukan lukisan lama, tapi justru lukisanku yang paling baru. Media yang aku gunakan adalah dinding kamar yang belum dicat. Lukisan ini menggunakan cat akrilik tanpa campuran air dengan menggunakan kuas. Jika kita melihatnya sekilas, lukisan ini menyerupai pohon. Kakak iparku saat pertama kali melihatnya langsung menyimpulkan bahwa itu adalah pohon terbalik. Ada juga teman yang berpikir itu adalah dua pohon yang berbeda. Tidak masalah. Semua orang bebas memberi makna pada apa yang mereka lihat. Tapi sejujurnya lukisan ini adalah ekspresi kegagalan. Biar aku ceritakan detailnya kenapa lukisan ini bisa terwujud. Saat itu tanggal 21 Mei 2020, waktu menunjukkan kurang lebih pukul 11 malam. Aku sedang berusaha mengunggah beberapa video di google Drive. Tapi karena jaringan internet yang tidak begitu bagus, maka aku harus menunggu cukup lama. Sambil menunggu, aku berusaha menghibur diri juga berupaya me...

02. Renyah

Maba, akronim dari mahasiswa baru. Ketika kata "baru" disematkan, maka ada antusiasme yang mengikutinya. Begitu juga status maba yang kami sandang. Rasanya, semangat belajar sedang berkobar-kobarnya. Rasa ingin menjadi agen of change memaksa diri untuk berpikir kritis, sekedar agar bisa dianggap mahasiswa sejati. Dosen kadang tidak masuk. Membuat semangat belajar ini tidak bisa tersalurkan. Ada dua tipikal mahasiswa, mereka yang kritis atau ingin dianggap begitu, akan mengeluh dan mengungkapkan kepada yang lain bahwa dia merasa rugi sudah bayar SPP. Sementara golongan lain yang masih belum bisa melepaskan kebiasaannya di SMA, atau mereka yang tidak peduli dengan image kritis dan lain-lain itu justru akan bahagia. Saya sendiri memilih menjadi bunglon. Kepada mereka yang kritis, saya sepakat. Tapi kepada mereka yang tidak peduli, saya sepaket. Begitulah jiwa dan pikiranku memilih bercerai. Beruntung imajinasi tidak pernah meninggalkan diriku, jadi perceraian jiwa dan pikiran t...

Tugas Resume MK Komunikasi Politik

BAB V MEDIA POLITIK: SALURAN MASSA, INTERPERSONAL, DAN ORGANISASI Alat atau upaya yang yang digunakan untuk mengirimkan pesan ialah saluran dari ‘siapa mengatakan apa kepada siapa’. SALURAN KOMUNIKASI POLITIK Saluran komunikasi adalah alat serta sarana yang memudahkan penyampaian pesan. Menurut pendapat Kenneth Burke, saluran adalah ciptaan makhluk pemakai lambang untuk melancarkan saling tukar pesan. Saluran di sini bukan hanya alat dan sarana, tetapi juga manusia itu sendiri. Berbeda dengan saluran lain, manusia merupakan saluran yang aktif, selektif, tidak pasif dan netral. Otak manusia menyandikan kembali dan mentransformasi pesan, bukan mekanisme untuk pengalihan bersambung yang sederhana. Alat dan sarana berguna untuk memudahkan tapi bukan untuk menjamin ketepatan. Sebaliknya, bila dipikirkan bahwa pada dasarnya manusia juga adalah sarana, “maka saluran komunikasi itu lebih dari sekedar titik sambungan, tetapi terdiri atas pengertian bersama tentang siapa dapat ber...