Assalamu
alaikum,
Nasumpu raraku leh
kuliah hari Jumat. Bukannya saya malas kuliah. Tapi berdasarkan jadwal, mata
kuliahku Cuma hari senin sampai kamis. Tapi kemarin Ibu Rahmah salah satu Dosen
Mata Kuliah Creative Writing batambah
pertemuan karena beberapa kali pertemuan dosennya tidak masuk, dan dia pilih
hari jumat sore. Beruntung sebenarnya punya dosen kaya Ibu Rahmah yang selalu
memperhatikan mahasiswanya. Tapi bagi mahasiswa yang tidak tahu diuntung, ya
otomatis hal itu tidak dianggap sebagai keuntungan. Saya misalnya.
Saya
badiri balihat keluar jendela sambil menikmati hawa panasnya Sulawesi Tengah.
Hawa yang bikin mengeluh orang-orang, hawa yang bikin orang bastatus di
facebook “Pe panas jo”, “Itu matahari atau kompor?”, “Napane eyoooow”, dan lain
sebagainya. Hawa yang bikin saya tidak betah lama-lama di daerah yang dingin
karena so tabiasa dengan hawa panasnya Palu, ngataku.
Tanpa
saya sadari, so tidak tadengar lagi suara di masjid. Tidak lama, lewat
tetanggaku. Senangnya hatiku balihat tetanggaku lewat. Bukan karena dia
ganteng, bukan juga karena saya bacidaha dia. Tapi kalau dia sudah lewat,
berarti orang sudah habis shalat Jumat, dan itu artinya saya sudah boleh tidur
siang. Tidak buang-buang waktu lagi, saya langsung pi tidur.
Anehnya,
belum lama saya tidur, tiba-tiba ada suara khotbah. Abala, perasaan tetanggaku
tadi so lewat, masjid mana itu yang masih bakhotbah baru suaranya macam suara
ibu-ibu, pikirku saat itu. Liat kemari ternyata bukan khotbah, tapi mamaku
bakultum. Narau vai tinaku tano.
“Kau bilang kau hari
ini ada kuliah. Bangun sudah, kau itu mata busu memang. Sudah tidur jam
delapan, bangun jam tujuh. Sekarang tidur lagi. Kau kira bagus?
!@#$^&*()_+>=+?<” demikianlah pidato singkatnya mamaku yang kemudian
saya singkat lagi karena kalau ditulis semua, jadi novel nanti.
Dengan
mata tabuka setengah, saya bangun. Bakasi kumpul nyawa sambil balihat jam.
Nasoe betul, ternyata sudah setengah dua. Baru saya masuk sabantar jam dua.
Belum lagi motor Tornadoku tidak bisa terlalu laju. Astaga, saya juga belum
mandi. Tapi kejadian begini bukan kali pertama, makanya saya sudah tahu betul
cara menanganinya. Pertama, tidak usah mandi. Pake bedak Herocine saja di
seluruh badan. Kedua, pake baju yang masih wangi. Ketiga, kalau baju sudah
tidak wangi, pake parfum noh. Keempat, kalau tidak ada parfum, pake saja
pewangi pakaian. Kelima, kalau tidak ada juga, tidak usah noh, yang penting
sudah peke Herocine. Ini namanya belajar dari pengalaman. Untuk kelima langkah
itu, saya Cuma butuh waktu lima menit. Setelah itu, segera saya tancap gas ke
kampus.
Di
perjalannan, saya babawa motor sambil sesekali balihat kedua tanganku yang
bapegang kemudi motor. Melayang lagi pikiranku, semenjak saya kuliah, kedua
tanganku betul-betul navuri. Seandainya saya pake sarung tangan, mungkin tidak
begini hasilnya. Tapi ribet kalau harus pake sarung tangan. Itu sudah
kebiasaanku dari SD, kalau bajalan, atau sementara badiam, pasti ada yang saya
pikir, kendati tidak penting. Kata-kata yang paling sering muncul kalau saya
bapikir begitu biasanya “Seandainya”. Intinya saya paling tidak tahu caranya
bakasi kosong pikiran. Begitu sudah, ala tidak bisa karena tidak biasa.
Harapanku
saat itu, “Semoga Ibu Rahma lebih lambat daripada saya.” Karena kalau mahasiswa
lambat, biasanya so te boleh masuk. Tapi kalau dosen lambat, pasti tidak
masalah. Cuma satu lagi masalahnya, kenyataan bahwa sepanjang ingatanku Ibu
Rahmah tidak pernah lambat. Saya beralih ke harapan selanjutnya, “Semoga saya
masih bisa masuk mata kuliah.” Tapi kalau ditanya kenapa lambat, saya harus
siapkan alasan-alasan yang tepat. Akhirnya saya rusak sendiri lamunan-lamunan
tidak jelasku itu dengan fokus ke jalanan.
Pas
sampai di Bundaran depan gerbang Untad, pemandangan langka terjadi lagi. Di
depan gerbang banyak sekali orang. Awalnya saya kira ada demo. Jadi saya
bapelan-pelan. Tapi alangkah terkejutnya saya, pas saya lihat di atas tembok
yang menjulang tinggi di depan gerbang Untad itu, ada orang terkulai tidak
sadarkan diri dengan beberapa orang berusaha baturunkan dia dari atas. “Astaga,
siapa itu mau budnuh diri?” tanyaku dalam hati. Segera saya cari tempat untuk
baparkir, dan akhirnya dapat. Saya tanya sama cewek yang sudah duluan tiba
daripada saya.
“Itu
orang kenapa? mau bunuh diri?”, tanyaku.
“Tidak.
Itu orang tasetrum.” Jawabnya sambil
tersenyum getir.
Tidak
lupa aku menanyakan kronologi kejadiannya, tapi ia hanya menjawab
“Sa te tau juga, mungkin mau bapasang lampu
di atas sto.” Jawabnya lagi.
Pandanganku
beralih lagi baperhatikan pria korban tegangan tinggi di tempat yang tinggi
itu. Orang-orang masih bausaha baselamatkannya dengan tali. Tapi belum berhasil
juga, karena ada rangkaian besi kerangka tembok yang bahalagi. Sementara itu
orang sudah tidak sadarkan diri. Sebenranya saya masih mau cari tahu lebih
banyak. Tapi waktuku tidak banyak. Saya mau foto juga, tapi Hpku cuma Nokia N70
yang bahkan memorinya pun sudah hilang. Susupoku
pun Cuma sampai disitu dan sampai sekarang saya tidak tahu kabar korban
bagaimana, entah masih hidup atau tidak.

Komentar
Posting Komentar