Assalamu
alaikum,
Saya punya cerita tentang pengalaman pribadi saya yang jarang sekali saya
bagi dengan orang lain. Pengalaman ini adalah pengalaman yang saya rasa akan sulit
untuk saya lupakan. Dulu waktu masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah kelas
IX, saya pernah dipercayakan untuk membaca puisi di taman GOR. Waktu itu ada
festifal yang saya juga lupa namanya apa. Yang jelas banyak anak mudanya, terus
ada anak-anak band indi yang tampil di sana.
Waktu itu saya datang tidak sendiri. Saya bersama guru Bahasa Indonesia
saya yang sangat cantik dan masih sangat muda, Ibu Vivi namanya. Di sana dia
punya banyak teman dari sanggar seni yang diikutinya sewaktu kuliah. Jadi dia
sama sekali tidak canggung. Dia benar-benar terlihat seperti anak gaul . Sangat berbeda dengan saya yang
terlihat cupu dan seperti takut
dengan keramaian. Ya, memang benar saya takut dengan keramaian, apa lagi itu
pertama kalinya saya keluar di malam hari tanpa pengawalan orang tua atau
kakak. Seingat saya malam itu bertepatan dengan malam jumat. Makanya saya mau
ikut karena besoknya juga libur. Sekaligus ini bisa jadi pengalaman baru untuk
saya. Satu per satu anak-anak muda itu tampil. Semakin banyak anak muda yang
datang. Saya jadi semakin gelisah. Kapan saya tampilnya? Semakin lama saya
tampil maka akan semakin banyak orang. Itu jadi kekhawatiran tersendiri bagi
saya. Setelah beberapa lama, ibu Vivi pamit sebentar. Awalnya saya tidak rela
ditinggal. Tapi Ibu Vivi meyakinkan bahwa dia akan cepat kembali. Akhirnya saya
menunggu dengan was-was, takut kalau-kalau namaku dipanggil sementara ibu Vivi
belum juga kembali. Kekhawatiranku pun terbukti. Namaku dipanggil, sementara
ibu vivi belum juga kembali. Aku ragu, namun aku dipaksa maju oleh panitia. Aku
pun maju membaca puisi yang tidak jelas siapa pengarangnya itu. Yang jelas itu
puisi yang ada di lagu UTOPIA. Saya baca dengan penuh penghayatan. Terlihat di
sudut-sudut penonton, ada yang terharu. Ada yang menangis. Ada yang terus
menatapku dengan serius. Dan ada juga yang sebaliknya. Semua terpukau dan
bertepuk tangan. Padahal puisi ini belum selesai. Karena di akhir puisi ini aku
harus menyanyikan sepenggal lirik lagu UTOPIA. Akupun menyenyikan sepenggal lirik
itu. Dengan suaraku yang luar biasa tidak enak di telinga ini. Suaraku ibarat
gong bertuah yang lima ratus tahun tidak dipukul, lalu dipukul dalam kesunyian.
Beberapa pasang anak muda berlarian mendengar suaraku. Ada yang langsung
jongkok sambil memegang telinganya. Satu hal yang kusyukuri, hingga saat ini
tidak ada yang minta pertanggungjawaban padaku karena gendang telinganya pecah.
Saat itu aku benar-benar malu. Bayangkan saja. Aku seorang anak kecil
yang hendak jadi remaja, berdiri di tengah kota Palu di depan orang banyak.
Lalu melakukan hal yang menyikasa mentalku saat itu. Benar, saat itu aku
benar-benar merasakan yang namanya malu di atas malu. Aku kecewa entah dengan
siapa. Aku malu luar biasa. Aku lari dan di hadapanku sudah ada Ibu Vivi. Yang seperti
menahan tawa. Namun akhirnya bersikap prihatin dan menenangkanku dengan
pelukannya
“Tidak
apa-apa. Tidak apa-apa.” “sudah, sudah.”

Komentar
Posting Komentar