Assalamu alaikum Wr Wb
Aku tidak tahu
apa yang salah dengan hari ini. Setahuku hari ini hari Rabu. Hari di mana dulu aku
juga dilahirkan. Hari yang pernah jadi sangat membahagiakan. Tapi hari ini terlalu
banyak insiden yang rasanya mau memecah kepalaku dalam semalam. Rasanya kalau
memikirkan semua ini, ingin kuberi label ‘SIAL’ pada setiap hari ‘Rabu’.
Haruskah aku menyebutnya ‘Wednesday’ saja, agar tidak sesial ini?
Pertama, aku tidak menyelesaikan tugas
meng-entri data calon penerima bantuan LPG 3 kg dengan tepat waktu, justru aku
menghilangkan data yang sudah ku-entri sebelumnya. Itu benar-benar merusak
kepercayaan. Kedua, aku tidak mengerjakan
tugasku, yang nyata-nyata dikumpul besok. Tapi itu sudah biasa. Tapi yang ketiga ini benar-benar sesuatu yang
membuatku merasa jadi manusia paling tidak peka. Saat dimana tanpa sengaja aku
menjadi penyebab pertengkaran antara Aan dan Rahmah.
Awalnya aku hanya
menonton film “The Dictator” dan mengatakan dengan polosnya mengatakan “Aku
atau Rahmah yang bilang, ‘bagus kita ajak Andika nonton ini.’” Aku bilang
begitu, karena sebelumnya, aku dan Rahmah sudah bergurau mengenai rencana
pemutaran film itu di golni. Waktu itu aku dan Rahmah berpikir, siapa kira-kira
yang mau nonton film semacam itu? Hingga Rahmah bilang “Orang yang benci dengan
diktator pasti mau nonton.”
Aku menyela
“Andika berarti, karena dia kan aktivis-aktivis begitu.”
Tapi aku
sendiri agak lupa-lupa ingat, makanya aku bilang “Aku atau Rahmah yang bilang
‘bagus kalau Andika diajak.’”
Maksudnya
kalau kita benar-benar bikin bazar film di Golni, Mungkin Andika akan tertarik
jadi salah satu orang yang beli bazar film ‘The Dictator’ itu, karena judulnya
(yang menipu).
Aku sama
sekali tidak menyangka, kalau cara bicaraku itu membuat Aan dan Rahmah akhirnya
bertengkar. Rahmah jadi tersangka dalam kasus ini. Aan pulang ke rumahnya
merasa dirinya adalah korban. Rahmah sedih.
Rahmah menangis. Semua gara-gara aku.
Malam ini aku
sangat menyesal dengan semua yang terjadi hari ini. Kenapa aku harus melakukan kecerobohan
demi kecerobohan seperti itu? Kenapa Aan harus marah sama Rahmah, padahal Rahmah
sama sekali tidak pernah mengungkit Andika? Aku memang salah, aku bicara seolah-olah aku
dan Rahmah pernah berniat mengajak Andika nonton film itu, padahal aku yang
bilang, aku yang ungkit, aku yang bahas, aku yang berpendapat, aku yang punya
ide, aku yang kepikiran, dan Rahmah sama sekali tidak pernah membahas apalagi
berniat mengajak Andika. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku mau menjelaskan
sama Aan duduk persoalannya, tapi dia sudah pulang. Aku mau SMS tapi tidak ada
pulsa. Aku tidak tahu harus cerita sama siapa.
Aan sudah
salahfaham sama Rahmah. Sementara Rahmah mencoba menjelaskan, tapi apa yang
harus dia jelaskan? Dia pasti bingung mau mulai darimana. Karena dia memang
tidak salah. Sekarang Rahmah di sebelahku, matanya terpejam, tapi airmatanya
mengalir. Ini salahku.
Aku hanya bisa
memaklumi Aan. Dia wajar cemburu, karena dia akung sama Rahmah. Aku juga hanya
bisa membiarkan Rahmah menangis. Aku tidak tahu bagaimana menghiburnya, karena aku
penyebab semua ini. Wajar Rahmah menangis, dia dituduh. Semuanya gara-gara aku.
Tersangka dan korban. Dua-duanya tidak salah. Bagaimana caranya seorang pendosa
seperti aku menjelaskan kepada keduanya?
Ah, aku
pusing!!!
Jeda sebentar,
Rencananya
curhatan ini aku mau perlihatkan ke Aan besok. Berharap dia mengerti dan
berbaikan dengan Rahmah. Meskipun aku sadar, aku mungkin tidak akan bisa tidur
memikirkan masalah ini. “tok, tok, tok.” tiba-tiba suara ketukan pintu itu
menambah kebisingan malam yang sudah lebih dulu bising karena film ‘The
Dictator’ dan kendaraan yang masih lalu lalang di luar.
Saat Rahmah akhirnya
sadar dan membuka pintu, itu ternyata Aan dengan membawa Qur’an, dia menyuruhku
bersumpah kalau aku Cuma salah bicara. Aku pun bersumpah sambil memegang Qur’an
itu. Entah aku berdosa atau tidak, karena aku belum mandi wajib, dan belum
bersih dari darah haid. Tapi aku terdesak, daripada tiga orang berdosa, lebih
baik satu saja yang berdosa. Biarlah aku berdosa karena memegang Qur’an dalam
keadaan tidak suci, daripada aku membiarkan dan bahkan jadi penyebab putusnya
tali silaturahmi antara Aan dan Rahmah.
Sekarang
mereka sedang menyelesaikan persoalannya. Aku hanya berharap mereka segera
baikan agar tiada penyesalan nantinya. Karena aku sudah cukup tertekan dengan
banyaknya perasaan bersalah dan berdosa ini.
Hari rabu pun
sampai pada penghujung waktunya, sekarang sudah dini hari kamis. Akhirnya
harapanku yang sebenarnya merupakan harapan Rahmah dan Aan juga terwujud.
Mereka telah berbaikan. Usai sudah drama melow ini, semua berakhir dengan
airmata yang mereka sebut haru.
Bersamaan
dengan berakhirnya cerita ini, film ‘The Dictator’ yang tadinya aku nonton
bertiga bersama Aan dan Rahmah pun rupanya juga ikut berakhir. Aku berharap,
otakku bisa kupakai dengan baik, agar semua ini tidak terulang. Oh, boy! Say
No To Ceroboh.
Akhirul kalam,
Wassalamu alaikum Wr Wb
Komentar
Posting Komentar