1 Panggilan Tak Terjawab
Suatu pagi di musim hujan, aku berangkat ke kampus pagi-pagi sekali. Alasannya bukan karena ada kuliah pagi, tapi ada banyak hal yang lebih urgen. Pertama, aku tahu saat itu musim hujan. Kedua, aku tidak punya payung. Ketiga, aku juga tidak punya jas hujan. Keempat, aku harus menghindari hujan yang akan turun di jam-jam tak terduga. Kelima, pagi-pagi adalah waktu yang tepat untuk Online Gratis di kampus. Setelah menimbang, merenung, dan akhirnya memutuskan untuk berangkat ke kampus, akhirnya langit memamerkan awan-awan kelabunya.
Imajinasi Hiper aktif mode on, maka terjadilah percakapan batin antara aku dan langit.
“Kamu nantangin?” Tanyaku sambil melotot ke arah gumpalan awan di atasku.
“Kalau iya kenapa?” Kata lagit.
“Ya udah enggak apa-apa.”
“Biasa aja dong matanya.”
“Banyak bacot, lu.”
“Lu juga.”
“Brisik, lu.”
“Kok kamu jadi kasar sih.”
“Kamu jangan memutar kata.”
“Kenapa malah kau tuduh akulah penyebab segalanya?”
Tak mau banyak urusan dengan lagit, aku segera tancap gas. Gumpalan-gumpalan awan semakin menebal seiring kecepatan Suzuki Tornadoku. Tak mau kalah cepat, segera kutingkatkan kecepatan. Anehnya, di saat yang mendebarkan ini aku malah teringat pengalaman pahit kala rantai motorku putus karena over speed. Maka tidak ada pilihan lain selain menormalkan kecepatan, demi kelangsungan hidup kita bersama.
Kucoba berunding dengan langit agar dia menunda hujan sampai aku tiba di kampus. Tapi dasar si raja tega, langit malah bilang “Semua ini rencana Tuhan. Hujan itu rahmat. Kalau harapanmu itu dikabulkan, maka doa ratusan bahkan ribuan orang, hewan dan tumbuhan yang berharap hujan segera turun akan di Cancel. ”
“Tapi aku tidak mau basah kuyup.”
“Kau basah
atau tidak pun, itu sudah di
setting oleh Tuhan.”
“Dasar tega.”
“Dasar egois.”
Lelah berdebat, aku kembali fokus pada jalanan yang kulalui. Tepat di depan gerbang UNTAD, gerimis mulai menyentuh tanah. Semangatku untuk sampai di Fisip Untad semakin membara. Dengan sedikit perjuangan, akhirnya aku sampai dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Nah lo.
Setibanya di Fisip Untad, aku mencari ruang kosong yang masih dijangkau way-fi. Duduk di ruangan yang sepi tak berpenghuni seperti BTF 5 ini membuat bulu ketekku merinding. Suhu dingin menambah suasana angker ruangan yang setahuku tidak angker ini. Berada dalam situasi seperti ini membuatku kebelet pipis. Kebetulan di ruangan ini ada dua toilet. Langkah-langkahku menuju toilet memecah hening kala itu. Tapi rasa takutku semakin naik level saat melihat pintu toilet terbuka begitu saja dan di sana terlihat sangat gelap, tidak ada cahaya sedikit pun.
Ku tengok jam di Ponselku, masih pukul 06.14 WITA. Kalau aku menunggu sampai ada temanku yang datang, pasti akan butuh waktu satu atau dua jam. Sementara aku sudah tidak tahan. Saat itu aku mengambil satu pelajaran penting bahwa rasa kebelet bisa mengalahkan rasa takutmu.
Setelah ritual buang air kecil, aku mendengar suara gayung dari toilet sebelah. Aku menguping dengan seksama. Tapi suara itu hilang. Aktivitasku di toilet sudah selesai, aku telah memegang ganggang pintu saat tiba-tiba ada suara benda terjatuh di toilet sebelah. Aku tidak tahan lagi, segera kutanya “Siapa?”, tapi tak ada balasan. Kutanya lagi “Apa?”. Tapi masih tak ada jawaban. Aku terus mencoba “Dimana?”. Masih saja tak ada jawaban. Hingga semua pertanyaan ‘5 W + 1 H’ ku ajukan, tetap saja tidak ada jawaban. Aku putuskan untuk keluar dari toilet dengan langka seribu. Aku sudah di luar toilet, tapi masih di wilayah gelap tak bercahaya. Aku penasaran tapi juga takut, makhluk apa gerangan yang ada di toilet sebelah. Karena takut ketahuan oleh makhluk bersangkutan, aku mengendap-ngendap mencoba keluar dari wilayah gelap itu.
Tiba-tiba saja “ngiiek” suara pintu terbuka. Aku berbalik kebelakang tapi tak ada apa pun yang kulihat saking gelapnya. Entah darimana lagi aku mendapatkan keberanian, yang jelas aku menjulurkan tanganku kedepan untuk meraba apa yang ada di sana. Tanganku bergentayangan kemana-mana, tapi tak ada yang dijangkaunya. Maka aku maju selangkah dan aku memegang sesuatu seperti rambut, aku berteriak “Aaaa” begitu pula dengan makhluk di sebelahku. Setelah puas berteriak, aku langsung lari ke luar. Tak lama kemudian makhluk itu muncul. Rupanya itu Jenny, teman sekelasku.
Dia terlihat pucat, mungkin karena ketakutan, sama sepertiku. Dia pun ternyata datang ke kampus cepat agar dapat menghindari hujan. Sama sepertiku.
“Kenapa tadi kamu tidak enggak nyehut waktu aku nanya 5 W + 1 H?”
“Katanya orang bugis, kalau buang air besar, tidak boleh ngomong, pamali.”
Setelah mata kuliah pertama, aku tidak melihat Jenny lagi. Aku pun bertanya pada Hadi, pacar Jenny. “Jenny kemana?”
“Dia izin, pulang kampung. Ada urusan keluarga.”
“Oh, jadi dia sudah pulang.”
“Iya, dia berangkat kemarin.”
“Apa?”
“Kenapa kaget?”
“Kamu bohong kan?”
“Untuk apa coba aku bohong. Kalau enggak percaya SMS aja dia.”
Aku yang merasa dibohongi, ingin membuktikan kebohongan Hadi. Aku pun menelpon Jenny, tapi belum sempat bicara lewat telepon, aku langsing melihatnya dari kejauhan. Dia berjalan sendirian menuju toilet BTF 5.
“Jenny!” Sapaku setengah berteriak.
Tapi dia tak menghiraukanku.
“Ini namanya satu panggilan
tak terjawab.” Batinku.
Dia terus berjalan. “Mungkin dia kebelet”, pikirku positif. Lama sekali aku menunggu Jenny di BTF 5, tapi dia tak muncul-muncul juga. Beberapa orang yang baru keluar dari toilet pun kuintrogasi apakah mereka melihat Jenny. Tapi tak ada yang melihatnya. Malah mereka bilang toilet sudah kosong. Merasa di hindari oleh Jenny, aku segera menelponnya lagi.
“Jenny, kamu di mana?” tanyaku to the point.
“Aku di Luwuk.” Jawabnya.
“Ha? Kamu jangan bercanda deh.”
“Siapa yang bercanda sih? Omaku meninggal kemarin jadi aku dan keluarga langsung pulang ke Luwuk.”
“Ha?” tanyaku heran.
“Ha ho ha ho. Kamu kenapa sih?”
“Kamu pu, pu, pulangnya kemarin?” tanyaku lagi dengan tergagap.
“Iya, kemarin.”
Mendengar jawaban yang terdengar jujur tanpa manipulasi itu, aku hanya ternganga.
“Halo, Inu. Inu!”
“Jadi yang di toilet tadi siapa?” Tanyaku dengan takut sambil melihat ke arah toilet.
“Ha?” Jenny heran.
Sejak kejadian itu, aku selalu datang terlambat ke kampus.
Komentar
Posting Komentar