Langsung ke konten utama

Pendidikan Karakter & Anti Korupsi: Soal-Soal

Tugas Pendidikan Karakter dan Anti Korupsi

Ada 3 pola pendidikan anak dalam keluarga untuk membentuk karakter anak, antara lain:

-          Pola otoriter

-          Pola demokratis

-          Pola permisif

1.    Kemukakan apa yang anda pahami tentang ketiga pola tersebut!

2.    Kemukakan efek dari ketiga pola asuh tersebut!

3.    Berikan contoh kasus dalam kehidupan sehari-hari masing-masing satu, kemudian anda analisis terkait dengan mata kuliah Pendidikan Karakter!

Jawaban

1.    Menurut pemahaman saya, pola asuh yang sifatnya otoriter merupakan pola asuh yang keras. Dimana seorang anak dididik untuk patuh terhadap segala apa yang diperintahkan kepadanya, tanpa pernah mendengarkan pendapat sang anak. Kemudian, apabila anak mungkir atau memprotes, maka biasanya orang tuanya akan memberi hukuman yang keras. Dengan kata lain, pola asuh ini menuntut dan menekan sang anak sesuai dengan keinginan orang tua, sehingga anak tersebut mau tidak mau harus mematuhinya. Pada umumnya pola ini merupakan pola asuh yang keras dan dapat membuat anak tertekan, dan cenderung kearah yang negatif.

 

Selanjutnya, pola asuh yang sifatnya demokratis. Menurut pandangan saya, pola asuh demokratis adalah pola asuh dimana orang tua tidak hanya mengatur dan mendidik anak, tetapi juga  memberi kebebasan kepada sang anak untuk mengemukakan pendapatnya. Dapat dikatakan, pola asuh ini adalah kombinasi dari pola otoriter dan permisif, dimana orang tua dan anak punya kesempatan yang sama untuk mengemukakan pikiran, gagasan dan pendapat yang pada akhirnya mencapai sebuah keputusan yang berterima antara orang tua dan anak. Pola asuh ini merupakan pola asuh yang baik. Karena melalui pola asuh ini, anak dapat terarah kepada hal-hal yang sifatnya positif.

 

Terakhir, pola asuh permisif. Pola asuh ini merupakan pola asuh dimana orang tua cenderung memberi kebebasan seluas-luasnya kepada sang anak untuk bersikap dan bertindak. Dengan kata lain, kehidupan sang anak seakan-akan ditentukan oleh anak itu sendiri. Pola ini akan menghasilkan hal yang positif  jika anak mampu mengatur seluruh pemikiran, sikap dan tindakannya dengan baik. Namun, pada umumnya mereka tidak mampu, sehingga malah menghasilkan hal-hal negatif.


 

2.    Efek dari ketiga pola asuh:

·         Anak yang diasuh dengan pola otoriter biasanya akan menjadi anak yang suka membantah, memberontak, berani melawan arus lingkungan sosialnya, tidak memiliki kepedulian, antipati, pesimis, tidak percaya diri, penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, kepribadian lemah dan seringkali menarik diri dari lingkungan sosialnya, bersikap menunggu dan tak dapat merencakan sesuatu.

·         Anak yang diasuh dengan pola demokratis biasanya akan menjadi anak yang mandiri, matang, dan dapat menghargai diri sendiri serta orang lain, bertanggung jawab, mudah bergaul, mampu menghadapi stres, berminat terhadap hal-hal baru dan bisa bekerjasama dengan orang lain..

·         Anak yang diasuh dengan pola permisif, jika dapat mengatur segala sikap dan tindakannya dengan baik maka ia dapat mengembangkan krativitas dan bakatnya. Namun jika ia tidak mampu mengatur sikap dan tindakannya dengan baik, maka yang akan terjadi adalah anak akan cenderung melanggar norma-norma, nilai-nilai, dan aturan sosial. Karakter anak menjadi impulsif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri dan kurang matang secara sosial

 

3.    Contoh kasus dalam kehidupan sehari-hari

Pola otoriter

Bambang misalnya adalah anak yang diasuh dengan pola otoriter. Setiap pagi, ia berangkat ke sekolah pukul 06.00 WITA dan pulang pada pukul 14.00 WITA. Suatu hari, ia pulang terlambat karena mampir di rumah salah satu temannya untuk mengerjakan tugas. Ia pun pulang pada pukul 16.00 WITA. Setibanya ia di rumah, ibunya sudah berdiri di pintu sambil memegang sapu. Tanpa mendengar penjelasan Bambang, Bambang pun dipukul dengan sapu karena pulang terlambat. Karena merasa dirinya adalah pihak yang benar, maka ia pun berontak, ia marah dan kabur dari rumah.

 

Pola demokratis

Sebut saja Nurliana, dia adalah anak yang diasuh dengan pola demokratis. Setiap ingin mengambil keputusan dalam keluarga, orang tuanya selalu meminta pendapat Nurliana, begitu pula sebaliknya, Nurliana tidak pernah segan untuk mengemukakan pendapatnya di hadapan orang tuanya. Jika ada pemikiran dan sikap atau tindakannya yang keliru, orang tuanya selalu mengarahkannya agar tidak keliru lagi. Untuk memilih jurusan di SMA, orang tuanya tidak pernah memaksa tetapi memberi saran agar anaknya masuk jurusan IPA, karena minat dan bakat Nurliana terlihat lebih cenderung ke sana. Nurliana pun merasakan hal yang sama, meski sebenarnya ia juga suka dengan pelajaran IPS, tapi atas pertimbangan yang matang, ia pun akhirnya memilih jurusan IPA, sama seperti saran orang tuanya.


 

Pola pesimis

Sadariati adalah anak satu-satunya. Mungkin itulah yang menyebabkan orang tuanya mengasuhnya dengan pola permisif. Apapun yang diinginkannya selalu dituruti, dan ia sudah terbiasa dengan hal itu. Suatu hari, karena permintaannya tidak dituruti, ia jadi tidak mau makan hingga akhirnya sakit. Lalu ia mengancam tidak akan makan sebelum permintaannya dituruti. Akhirnya orang tuanya pun mau tidak mau harus menurutinya. Semakin hari, sikap Sadariati bukannya berubah, tetapi justru semakin menjadi-jadi. Di sekolahnya pun ia kerap bertindak sesuka hatinya, ia selalu menindas teman-temannya, hingga ia banyak dijauhi karena arogansinya.

 

Analisis Terkait Mata Kuliah Pendidikan Karakter

Menurut analisis saya, dari ketiga pola asuh di atas, yang paling tepat untuk diaplikasikan dalam kehdupan sehari-hari adalah pola asuh demokratis. Karena karakter yang harus kita bentuk pada setiap anak adalah karakter baik tentunya. Untuk membentuk karakter anak, harus dimulai sejak dini. Kita tidak boleh terlalu mengekang anak dengan pola asuh yang sifatnya otoriter, tetapi juga tidak boleh terlalu memberinya kebebasan yang akhirnya malah kebablasan dengan pola asuh permisif. Membesarkan anak dengan pola asuh demokratis niscaya dapat membentuk karakter yang baik sebagai langkah awal me

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menunggu

22.05.2020 Hallo. Kali ini aku kembali memposting cerita di balik lukisan. Lukisan kali ini bukan lukisan lama, tapi justru lukisanku yang paling baru. Media yang aku gunakan adalah dinding kamar yang belum dicat. Lukisan ini menggunakan cat akrilik tanpa campuran air dengan menggunakan kuas. Jika kita melihatnya sekilas, lukisan ini menyerupai pohon. Kakak iparku saat pertama kali melihatnya langsung menyimpulkan bahwa itu adalah pohon terbalik. Ada juga teman yang berpikir itu adalah dua pohon yang berbeda. Tidak masalah. Semua orang bebas memberi makna pada apa yang mereka lihat. Tapi sejujurnya lukisan ini adalah ekspresi kegagalan. Biar aku ceritakan detailnya kenapa lukisan ini bisa terwujud. Saat itu tanggal 21 Mei 2020, waktu menunjukkan kurang lebih pukul 11 malam. Aku sedang berusaha mengunggah beberapa video di google Drive. Tapi karena jaringan internet yang tidak begitu bagus, maka aku harus menunggu cukup lama. Sambil menunggu, aku berusaha menghibur diri juga berupaya me...

02. Renyah

Maba, akronim dari mahasiswa baru. Ketika kata "baru" disematkan, maka ada antusiasme yang mengikutinya. Begitu juga status maba yang kami sandang. Rasanya, semangat belajar sedang berkobar-kobarnya. Rasa ingin menjadi agen of change memaksa diri untuk berpikir kritis, sekedar agar bisa dianggap mahasiswa sejati. Dosen kadang tidak masuk. Membuat semangat belajar ini tidak bisa tersalurkan. Ada dua tipikal mahasiswa, mereka yang kritis atau ingin dianggap begitu, akan mengeluh dan mengungkapkan kepada yang lain bahwa dia merasa rugi sudah bayar SPP. Sementara golongan lain yang masih belum bisa melepaskan kebiasaannya di SMA, atau mereka yang tidak peduli dengan image kritis dan lain-lain itu justru akan bahagia. Saya sendiri memilih menjadi bunglon. Kepada mereka yang kritis, saya sepakat. Tapi kepada mereka yang tidak peduli, saya sepaket. Begitulah jiwa dan pikiranku memilih bercerai. Beruntung imajinasi tidak pernah meninggalkan diriku, jadi perceraian jiwa dan pikiran t...

Tugas Resume MK Komunikasi Politik

BAB V MEDIA POLITIK: SALURAN MASSA, INTERPERSONAL, DAN ORGANISASI Alat atau upaya yang yang digunakan untuk mengirimkan pesan ialah saluran dari ‘siapa mengatakan apa kepada siapa’. SALURAN KOMUNIKASI POLITIK Saluran komunikasi adalah alat serta sarana yang memudahkan penyampaian pesan. Menurut pendapat Kenneth Burke, saluran adalah ciptaan makhluk pemakai lambang untuk melancarkan saling tukar pesan. Saluran di sini bukan hanya alat dan sarana, tetapi juga manusia itu sendiri. Berbeda dengan saluran lain, manusia merupakan saluran yang aktif, selektif, tidak pasif dan netral. Otak manusia menyandikan kembali dan mentransformasi pesan, bukan mekanisme untuk pengalihan bersambung yang sederhana. Alat dan sarana berguna untuk memudahkan tapi bukan untuk menjamin ketepatan. Sebaliknya, bila dipikirkan bahwa pada dasarnya manusia juga adalah sarana, “maka saluran komunikasi itu lebih dari sekedar titik sambungan, tetapi terdiri atas pengertian bersama tentang siapa dapat ber...