PEMIKIRAN AUGUSTO COMTE
1. Pendahuluan
Selintas
apabila melihat manusia yang satu ini pastinya semua akan berpikir, apakah
manusia ini gila ataukah cerdas ? Begitupun saya pada awalnya yang
mencoba mempelajari sosiologi dan pemikirannya manusia yang satu ini, Auguste
Comte. Seorang yang brilian, tetapi kesepian dan tragis hidupnya.
Auguste Comte yang lahir di Montpellier,
Perancis pada 19 Januari 1798, adalah anak seorang bangsawan yang
berasal dari keluarga berdarah katolik. Namun, diperjalanan hidupnya Comte
tidak menunjukan loyalitasnya terhadap kebangsawanannya juga kepada katoliknya
dan hal tersebut merupakan pengaruh suasana pergolakan social, intelektual dan
politik pada masanya.
Comte sebagai mahasiswa di Ecole
Politechnique tidak menghabiskan masa studinya setelah tahu mahasiswa yang
memberikan dukungannya kepada Napoleon dipecat, Comte sendiri merupakan salah
satu mahasiswa yang keras kepala dan suka memberontak. Hal tersebut menunjukan
bahwa Comte memiliki prinsip dalam menjalani kehidupannya yang pada akhirnya
Comte menjadi seorang profesional dan meninggalkan dunia akademisnya memberikan
les ataupun bimbingan singkat pada lembaga pendidikan kecil maupun yang
bentuknya privat.
Hal-hal yang sebenarnya menarik
perhatiannyapun dasarnya bukanlah yang berbau matematika tetapi masalah-masalah
social dan kemanusiaan. Dan, pada saat minatnya mulai berkembang tawaran
kerjasama dari Saint Simon yang ingin menjadikan Comte sekretaris Simon
sekaligus pembimbing karya awal Comte, Comte tidak menolaknya.
Tiada
gading yang tak retak, istilah yang menyempal dalam hubungan yang beliau-beliau
jalin. Akhirnya ada perpecahan juga antara kedua intelektual ini perihal karya
awal Comte karena arogansi intelektual dari keduanya.
Sejak
saat itulah Comte mulai menjalani kehidupan intelektualnya sendiri, menjadi
seorang profesional lagi dan Comte dalam hal yang satu ini menurut pandangan
Coser menjadi seorang intelektual yang termarjinalkan dikalangan intelektual
Perancis pada zamannya.
2. Perkembangan Masyarakat
Kehidupan terus bergulir Comte mulai
melalui kehidupannya dengan menjadi dosen penguji, pembimbing dan mengajar
mahasiswa secara privat. Walaupun begitu, penghasilannya tetap tidak mecukupi
kebutuhannya dan mengenai karya awal yang dikerjakannya mandek. Mengalami
fluktuasi dalam penyelesainnya dikarenakan intensitas Comte dalam pengerjaannya
berkurang drastis.
Comte dalam kegelisahannya yang baru
mencapai titik rawan makin merasa tertekan dan hal tersebut menjadikan
psikologisnya terganggu, dengan sifat dasarnya adalah , seorang pemberontak
akibatnya Comte mengalami gejala paranoid yang hebat. Keadaan itu menambah
mengembangnya sikap pemberang yang telah ada, tidak jarang pula perdebatan yang
dimulai Comte mengenai apapun diakhiri dengan perkelahian.
Kegilaan atau kerajingan yang
diderita Comte membuat Comte menjadi nekat dan sempat menceburkan dirinya ke
sungai. Datanglah penyelamat kehidupan Comte yang bernama Caroline Massin,
seorang pekerja seks yang sempat dinikahi oleh Comte ditahun 1825. Caroline
dengan tanpa pamrih merawat Comte seperti bayi, bukan hanya terbebani secara
material saja tetapi juga beban emosional dalam merawat Comte karena
tidak ada perubahan perlakuan dari Comte untuk Caroline dan hal tersebut
mengakibatkan Caroline memutuskan pergi meninggalkan Comte. Comte kembali dalam
kegilaannya lagi dan sengsara.
Comte menganggap pernikahannya
dengan Caroline merupakan kesalahan terbesar, berlanjutnya kehidupan Comte yang
mulai memiliki kestabilan emosi ditahun 1830 tulisannya mengenai “Filsafat
Positiv” (Cours de Philosophie Positiv) terbit sebagai jilid pertama,
terbitan jilid yang lainnya bertebaran hingga tahun 1842.
Mulailah dapat disaksikan sekarang
bintang keberuntungan Comte sebagai salah satu manusia yang tercatat
dalam narasi besar prosa kehidupan yang penuh misteri, pemikiran brilian
Comte mulai terajut menjadi suatu aliran pemikiran yang baru dalam karya-karya
filsafat yang tumbuh lebih dulu. Comte dengan kesadaran penuh bahwa akal budi
manusia terbatas, mencoba mengatasi dengan membentuk ilmu pengetahuan yang
berasumsi dasar pada persepsi dan penyelidikan ilmiah. Tiga hal ini dapat
menjadi ciri pengetahuan seperti apa yang sedang Comte bangun, yaitu: 1.
Membenarkan dan menerima gejala empiris sebagai kenyataan, 2. Mengumpulkan dan
mengklasifikasikan gejala itu menurut hukum yang menguasai mereka, dan 3.
Memprediksikan fenomena-fenomena yang akan datang berdasarkan hukum-hukum
itu dan mengambil tindakan yang dirasa bermanfaat.
Keyakinan dalam pengembangan yang
dinamakannya positivisme semakin besar volumenya, positivisme sendiri adalah
faham filsafat, yang cenderung untuk membatasi pengetahuan benar manusia kepada
hal-hal yang dapat diperoleh dengan memakai metoda ilmu pengetahuan. Disini
Comte berusaha pengembangan kehidupan manusia dengan menciptakan sejarah baru,
merubah pemikiran-pemikiran yang sudah membudaya, tumbuh dan berkembang pada
masa sebelum Comte hadir. Comte mencoba dengan keahlian berpikirnya untuk
mendekonstruksi pemikiran yang sifatnya abstrak (teologis) maupun pemikiran
yang pada penjalasan-penjelasannya spekulatif (metafisika).
Comte bukan hanya melakukan
penelitian-penelitian atas penjelasan-penjelasan yang perlu dirombak karena
tidak sesuai dengan kaidah keilmiahan Comte tetapi layaknya filsuf lainnya,
Comte selalu melakukan kontemplasi juga guna mendapatkan
argumentasi-argumentasi yang menurutnya ilmiah. Dan, dari sini Comte mulai
mengeluarkan agitasinya tentang ilmu pengetahuan positiv pada saat berdiskusi
dengan kaum intelektual lainnya sekaligus
Uji coba argumentasi atas mazhab
yang sedang dikumandangkannya dengan gencar. Positivisme. Comte sendiri
menciptakan kaidah ilmu pengetahuan baru ini bersandarkan pada teori-teori yang
dikembangkan oleh Condorcet, De Bonald, Rousseau dan Plato, Comte
memberikan penghargaan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan yang lebih
dulu timbul. Pengetahuan-pengetahuan yang sebelumnya bukan hanya berguna,
tetapi merupakan suatu keharusan untuk diterima karena ilmu pengetahuan
kekinian selalu bertumpu pada ilmu pengetahuan sebelumnya dalam sistem
klasifikasinya.
Asumsi-asumsi ilmu pengetahuan
positiv itu sendiri, antara lain : Pertama, ilmu pengetahuan harus bersifat
obyektif (bebas nilai dan netral) seorang ilmuwan tidak boleh dipengaruhi oleh
emosionalitasnya dalam melakukan observasi terhadap obyek yang sedang diteliti.
Kedua, ilmu pengetahuan hanya berurusan dengan hal-hal yang berulang kali.
Ketiga, ilmu pengetahuan menyoroti tentang fenomena atau kejadian alam dari
mutualisma simbiosis dan antar relasinya dengan fenomena yang lain.
Bentangan aktualisasi dari pemikiran
Comte, adalah dikeluarkannya pemikirannya mengenai “hukum tiga tahap”
atau dikenal juga dengan “hukum tiga stadia”. Hukum tiga tahap
ini menceritakan perihal sejarah manusia dan pemikirannya sebagai analisa dari
observasi-observasi yang dilakukan oleh Comte.
Versi Comte tentang perkembangan
manusia dan pemikirannya, berawal pada tahapan teologis dimana studi
kasusnya pada masyarakat primitif yang masih hidupnya menjadi obyek bagi
alam, belum memiliki hasrat atau mental untuk menguasai (pengelola) alam atau
dapat dikatakan belum menjadi subyek. Fetitisme dan animisme merupakan
keyakinan awal yang membentuk pola pikir manusia lalu beranjak kepada
politeisme, manusia menganggap ada roh-roh dalam setiap benda pengatur
kehidupan dan dewa-dewa yang mengatur kehendak manusia dalam tiap aktivitasnya
dikeseharian. Contoh yang lebih konkritnya, yaitu dewa Thor saat membenturkan
godamnyalah yang membuat guntur terlihat atau dewi Sri adalah dewi kesuburan
yang menetap ditiap sawah. Beralih pada pemikiran selanjutnya, yaitu tahap
metafisika atau nama lainnya tahap transisi dari buah pikir Comte
karena tahapan ini menurut Comte hanya modifikasi dari tahapan sebelumnya.
Penekanannya pada tahap ini, yaitu monoteisme yang dapat menerangkan
gejala-gejala alam dengan jawaban-jawaban yang spekulatif, bukan dari analisa
empirik. “Ini hari sialku, memang sudah takdir !”, “penyakit AIDS adalah
penyakit kutukan!”, dan lain sebagainya, merupakan contoh dari metafisika yang
masih ditemukan setiap hari. Tahap positiv, adalah tahapan yang terakhir
dari pemikiran manusia dan perkembangannya, pada tahap ini gejala alam
diterangkan oleh akal budi berdasarkan hukum-hukumnya yang dapat ditinjau,
diuji dan dibuktikan atas cara empiris. Penerangan ini menghasilkan pengetahuan
yang instrumental, contohnya, adalah bilamana kita memperhatikan kuburan
manusia yang sudah mati pada malam hari selalu mengeluarkan asap (kabut), dan
ini karena adanya perpaduan antara hawa dingin malam hari dengan nitrogen dari
kandungan tanah dan serangga yang melakukan aktivitas kimiawi menguraikan
sulfur pada tulang belulang manusia, akhirnya menghasilkan panas lalu
mengeluarkan asap.
Comte jelaslah dapat terlihat
progresivitasnya dalam memperjuangkan optimisme dari pergolakan realitas sosial
pada masanya, dengan ilmu sosial yang sistematis dan analitis. Comte
dikelanjutan sistematisasi dari observasi dan analisanya, Comte menjadikan ilmu
pengetahuan yang dikajinya ini terklasifikasi atas dua bagian, yaitu: sosial statik
dan sosial dinamik.
Sosial statik dan sosial dinamik
hanya untuk memudahkan analitik saja terbagi dua, walaupun begitu keduanya
bagian yang integral karena Comte jelas sekali dengan hukum tiga tahapnya
memperlihatkan ilmu pengetahuan yang holistik. Statika sosial menerangkan
perihal nilai-nilai yang melandasi masyarakat dalam perubahannya, selalu
membutuhkan sosial order karenanya dibutuhkan nilai yang disepakati bersama
dan berdiri atas keinginan bersama, dapat dinamakan hukum atau kemauan
yang berlaku umum. Sedangkan sosial dinamik, ilmu pengetahuan yang mempelajari
mengenai perkembangan masyarakat atau gerak sejarah masyarakat kepada arah
kemajuannya.
Pemandangan Comte rasanya dapat
terlihat dalam penjabarannya mengenai ilmu pengetahuannya, yang mengidamkan
adanya tata yang jelas mengedepankan keteraturan sosial dan kemajuan
perkembangan serta pemikiran masyarakat ke arah positif. Sebagai seorang
ilmuwan Comte mengharapkan sesuatu yang ideal tetapi, dalam hal ini Comte
berbenturan dengan realitas sosial yang menginginkan perubahan sosial secara
cepat, revolusi sosial.
Comte terpaksa memberikan stigma
negatif terhadap konflik, letupan-letupan yang mengembang melalui konflik dalam
masyarakat karena akan menyebabkan tidak tumbuhnya keteraturan sosial yang
nantinya mempersulit perkembangan masyarakat. Ketertiban harus diutamakan
apabila masyarakat menginginkan kemajuan yang merata dan bebas dari anarkisme
sosial, anarkisme intelektual. Keteraturan sosial tiap fase perkembangan sosial
(sejarah manusia) harus sesuai perkembangan pemikiran manusia dan pada tiap
proses fase-fasenya (perkembangan) bersifat mutlak dan universal, merupakan
inti ajaran Comte.
Comte memainkan peran ganda pada
pementasan teater dalam hidupnya, pertama-tama Comte yang menggebu dalam menyelematkan
umat manusia dari “kebodohan”, menginginkan adanya radikalisasi perkembangan
pemikiran dengan wacana positivisme dan progresiv dalam tata masyarakat. Kedua,
Comte menolak keras bentuk anarkisme sosial yang merusak moral dan intelektual.
Comte adalah seorang yang radikal
tetapi, bukanlah seorang yang revolusioner, Comte seorang yang progresiv namun
bukan seorang yang militansinya tinggi (walaupun, sempat mengalami
kegilaan/paranoid). Comte berjalan di tengah-tengah, mencari jalan alternatif
melalui ilmu pengetahuan yang dikembangkannya guna menyiasati kemungkinan besar
yang akan terjadi.
3. Pluralitas Ekstrim
Follow up atas radikalisasi Comte,
antara progresivitas untuk menciptakan perubahan sosial dengan penjagaan atas
keteraturan sosial menjadi bahan kontemplasi dan observasinya. Comte sangat
berjuang keras dengan idealismenya (positivisme) agar tercapai dan
dapat mengatasi keguncangan akibat kecemburuannya, harapan dan kenyataan yang
mungkin tidak akan sama nantinya yang akan terjadi pada manusia.
Pada saat tertentu Comte ulas balik
kembali untuk mencari sumbangan sosial para intelektual sebelum Comte, dan
terdapati oleh Comte tentang konsensus intelektual. Konsensus intelektual
selalu menjadi dasar bagi tumbuhnya solidaritas dalam masyarakat. Dan nilai
tersebut, diadopsi dari khasnah masyarakat teologis oleh Comte. Comte
melihat agama memiliki ikatan emosional yang tinggi bersandarkan sistem
kepercayaan yang satu dan itu mendorong kebersamaan umat manusia menjalankan
ritual keagamaan dengan penuh disiplin, menuju hal yang bernuansa transendental
dengan mengutamakan solidaritas sosial dan konsensus.
Menurut Comte hal ini tepat bila
akan digunakan sebagai satu formulasi untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk
yang akan terjadi, perubahan secara cepat atau revolusi sosial. Namun Comte,
tidaklah dapat mengandalkan agama yang konvensional apabila ingin mengadakan
sinkronisasi dan konsisten dalam pengembangan ilmu pengetahuannya,
positivisme.
Rutinitas Comte yang sangat ajek
ternyata tidak mengaburkan Comte dari sense of romance-nya, Comte bertemu
seorang perempuan yang bernama Clotilde de Vaux di tahun 1844. Walaupun, Comte
sangat mencintainya hingga akhir hayat Clotilde tidak pernah menerima cinta
Comte karena sudah memiliki suami, walau suaminya jauh dari Clotilde. Comte
hanya sempat menjalankan hubungan yang platonis, 1845 Comte menyampaikan
hasratnya dan hal tersebut tahun yang fantantis bagi Comte. Clotilde de Vaux
meninggal pada tahun 1846 karena penyakit yang menyebabkan tipis harapan
sembuhnya dan Clotilde masih terpisah dengan suaminya.
Pada saat itulah mungkin Comte mulai
memikirkan perihal keluarga, keluarga dianggap kesatuan organis yang dapat
menyusun pemikiran-pemikiran sedari awal bagi manusia-manusia baru (pasangan
suami-istri). Internalisasi nilai-nilai baru, tentunya yang positif. Comte yang
percaya bahwa perubahan tidaklah akan begitu tiba-tiba datangnya dalam
masyarakat. Comtepun percaya akan humanitas keseluruhan dapat tercipta dengan
kesatuan lingkungan social yang terkecil, yaitu keluarga. Keluarga-keluarga
merupakan satuan masyarakat yang asasi bagi Comte. Keluarga yang mengenalkan
pada lingkungan social, eskalasi keakraban yang meninggi akan menyatukan dan
mempererat keluarga yang satu dengan keluarga yang lain.
Hal tersebut membentuk pengalaman
yang didominasi oleh altruisma, terarah atas ketaatan, kerjasama dan keinginan
untuk mempertahankan yang telah dicapai dalam perspektif keluarga bentuk
mikrokosmik. Dalam diri manusia memiliki kecendrungan terhadap dua hal,
yaitu egoisme dan altruisma (sifat peribadi yang didasarkan pada
kepentingan bersama). Kecenderungan pertama terus melemah secara bertahap,
sedang yang kedua makin bertambah kuat. Sehingga manusia makin memiliki
sosialitas yang beradab, akibat bekerja bersama sesuai pembagian kerja
berdasarkan pengalaman adanya pertautan kekeluargaan yang mengembang. Tidak
dapat dikatakan tidak ini juga karena adanya sosialisasi keluarga terhadap
keluarga lainnya.
Rupa-rupanya Comte menganggap
keluargalah yang menjadi sumber keteraturan social, dimana nilai-nilai cultural
pada keluarga (kepatuhan) yang disinkronisasikan dengan pembagian kerja akan
selalu mendapat tuntutan kerja sama. Tuntutan kerjasama berarti saling
menguntungkan, menumbuhkan persamaan dalam mencapai suatu kebutuhan.
Seiring dengan kontemplasi dan
observasi Comte dalam mencari jalan tengah serta persentuhannya dengan
romantisme platonis, perang terus menerus dan individualitas mengembang bagai
jamur di musim hujan pada zaman post-revolusi Perancis semakin menentukan arah
pemikiran Comte yang empirik itu.
Pendobrakan besar-besaran
dilakukan Comte terhadap realitas sosial yang terus mencoba menghegemoni umat
manusia pada zamannya melalui institusi gereja, hal yang kudus dan ketabuan
yang dibuat oleh manusia (khususnya, pastur/pendeta/pemuka agama) mendapatkan
kritik keras karena menjajakan doktrin, dogma dan melakukan pembodohan
yang berakibat, yang kaya tetap kaya lalu yang miskin akan tetap miskin.
Dalam pada itu Comte yang telah
meyakini ilmu pengetahuan yang ditebarkannya mencoba mensinkronisasikan
altruisma unsur kebudayaan teologis, dimana konsensus sosial dan disiplin
merupakan landasannya atas aktivitas sehari-hari umat manusia. Begitupun
kesatuan organis terkecil di masyarakat, amat mempengaruhi Comte sebagai
institusi yang dapat meradiasi pemikiran-pemikiran yang berkembang dalam
pembentukan sosial orde pada masyarakat luas. Comte mulai merilis suatu pola
dan bentuk penyebaran dari satu sosial orde yang sangat mempengaruhi umat
manusia, Comte menciptakan agama baru yang sesuai dengan idealismenya.
Idealisasinya berbentuk agama yang
dapat dikatakan sekuler dan lengkap bersama ritus, hari rayanya, pemuka agama
serta lambangnya, dilengkapi oleh Comte. Agama gaya baru ini dinamakan agama
humanitas, dimaksudkan untuk memberikan cinta yang lebih terhadap
manusia-manusia yang menghasilkan karya dalam sejarah perkembangan manusia.
Menurut Comte mencintai kemanusian, inilah yang menyebabkan lahirnya
keseimbangan dan keintegrasian baik dalam pribadi individu maupun dalam
masyarakat. Kemanusianlah yang kudus dan sakral, bukanlah Allah karena banyak
penjelasan dalam agama konvensional yang bersifat abstrak dan spekulatif, hanya
memberi impian. Institusi agamapun hanya menjadi alat propaganda kepentingan
politik dari kekuatan politik tertentu.
Comte menciptakan agama tersebut,
terlihat seakan mengalami romantisisme terhadap pengalamannya yang lalu bersama
Clotilde de Vaux dan menghasilkan hubungan yang berbuih saja dan realitas
sosial yang juga turut membentuknya. Dari sini pada saat Comte, membentuk
ceremonial keagamaannya dengan mengadakan penyembahan terhadap diri perempuan,
Comte dikatakan oleh para intelektual lainnya kehilangan konsistensi terhadap
ilmu pengetahuan yang dikembangkannya karena pemikirannya sudah terbungkus
dengan perasaan. Comte dikatakan tidak ilmiah.
Namun permasalahan pemujaan Comte,
terhadap perempuan diadopsi dari rentang sejarah ceritra bunda Maria, bukan
karena adanya penolakan perasaan cintanya dari Clotilde de Vaux. Dalam hal ini
Comte dapat juga dikatakan mengadakan sublimasi terhadap obsesinya, yaitu
kebebasan berpikirnya atas idealismenya agar dapat menyiasati secara strategis.
Menciptakan masyarakat positivis di masa depan, dalam kontekstual hubungan seks
antara pria dan perempuan tidak perlu ada lagi dan “kelahiran
manusia-manusia baru akan keluar dengan sendirinya dari kaum perempuan”. Di
era sekarang hal tersebut merupakan pemandangan umum, perkembangan reproduksi
melalui tekhnologi kedokteran telah berhasil mengaktualisasikan ide tersebut.
Comte bersama ahli-ahli bidang
lainnya yang sepakat dengan pemikirannya menjadi perangkat institusi keagamaan
yang dibuatnya dan mulai mensosialisasikan kepada kalangan elit-elit politik,
Comte mengarang buku kembali dan diberikan judul Positivist Catechism dan
Appeal to Conservatives.
Comte dengan konsistensinya
mensosialisasikan agama humanitas-nya dan hukum tiga tahap yang memaparkan
perkembangan kebudayaan manusia hingga akhir hayatnya, Comte meninggal di Paris
pada tanggal 5 September 1857.
4. Kesimpulan
Auguste Comte adalah, manusia yang berjalan di tengah-tengah antara ideologi
yang berkembang ( progressiv vs konservatif ), berada pada ruang abu-abu
( keilmiahan ilmu pengetahuan ). Comte memberikan sumbangsih cukup besar untuk
manusia walaupun, ilmu pengetahuan yang dibangun merupakan ide generatif dan
ide produktifnya. Comte turut mengembangkan kebudayaan dan menuliskan : “Sebagai
anak kita menjadi seorang teolog, sebagai remaja kita menjadi ahli metafisika
dan sebagai manusia dewasa kita menjadi ahli ilmu alam”
Sumber: http://galileo-pmii.tripod.com/artikel/comte.htm
Komentar
Posting Komentar