Puing - Puing
Oleh: Nurliana
Mengenang setiap peluh
Menggenggam segenap keluh
Bukan kita, bila tanpa mengadu
Bukan kita, jika tak mengeluh
Sejak yang terucap hanya untaian debu,
Kita telah runtuh
Sejak hanya ada aku
Hingga yang ada hanya kau
Dan tak pernah ada kita,
Seperti itukah kita berpisah?
Kita sudah lama bercerai berai dalam satu
Jauh sebelum gedung berubah gardu
Jauh sebelum puing-puing
beradu
Sadarkah kita, kawan
Setiap bait lagu suci menggolora tentang kita
Menggelitik indra pengecap hingga memar
Namun yang terasa hanya hampa, hambar
Lidah ini, lidah itu
Terbiasa dengan omong kosong segala rupa
Hingga segala isi menguap hilang percuma
Bukankah lebih baik tumpah
Agar kita lebih cepat menyadari makna yang hilang
Kita harus pulang
Kini hari mulai petang
Jikalau hanya puing-puing yang kau dapat
Kau boleh mengumpat, kau boleh memucat, tapi jangan sekarat
Lihatlah puing-puing itu terlihat lezat
Telah menunggu bukan untuk dilumat mesin-mesin hebat
Mereka,
Puing-puing itu,
Menungguku,
Menunggumu juga
Menunggu kita
Menyatukannya satu demi satu
Komentar
Posting Komentar