| Tangisan Putri 22.02.2014 |
Aku sudah lupa kapan tepatnya lukisan ini kubuat. Tapi berdasarkan riwayat publishnya, karya ini pertama kali aku publish pada 22 Februari 2014 pada akun Google+. Sayangnya Google+ sudah RIP. Tapi aku bersyukur, Google masih menyimpan cadangan foto-foto yang pernah aku post di sana. Salah satunya lukisan ini, yang tidak pernah aku beri nama. Tapi hari ini aku pikir mungkin sebaiknya lukisan ini kuberi nama dan yang terpikirkan saat melihatnya lagi adalah "Tangisan Putri".
Kalau dipikir-pikir, ini hanya sebuah lukisan bernuansa abu-abu yang memperlihatkan sesosok anak kecil sedang duduk menyembunyikan wajahnya di balik lutut dan lengannya. Rambutnya panjang. Tidak ada yang benar-benar tahu apa dia sedang menangis atau tidak. Tidak ada yang benar-benar tahu apa dia seorang anak perempuan atau laki-laki. Tapi karena ini karyaku, jadi kuputuskan menganggapnya seorang putri dan sedang menangis. Putri yang dimaksudkan di sini adalah anak perempuan, bukan putri seperti di dongeng-dongeng anak-anak. Namanya dibuat sederhana, yakni "Tangisan Putri", agar kita semua bisa mengenalnya lebih mudah.
Pada bagian celana anak tersebut, ada huruf lontar. Sebenarnya itu cukup jelas di bagian paha. Hal ini berhubungan dengan latar belakang suku, yang mana penulis merupakan anak suku bugis. Tulisan lontar itu dibaca "inu" yang merujuk pada nama panggilan penulis. Jadi jelas, meskipun sudah lupa, tapi itu semakin membuatku yakin, bahwa akulah yang melukisnya.
Bentuk kaki yang tidak sempurna menggambarkan sebuah dasar yang lemah. Semakin memperkuat bahwa putri dalam lukisan tersebut tidak mampu berdiri di atas ketidaksempurnaan (alasan pembenaran saja sebenarnya, padahal memang tidak jago bikin kaki). Tangannya dilipat di atas lutut, semakin menambah suramnya situasi yang dihadapi oleh putri dalam lukisan itu.
Apa yang membuat lukisan ini terwujud? Pada dasarnya, aku bukan seorang seniman. Aku hanya orang biasa yang bahkan tidak punya pemahaman lebih soal seni, apalagi pakar, bukan! Sama sekali bukan! Aku senang menyebut diriku awam. Ya, aku hanya seorang awam yang sedang melukiskan ekspresiku sendiri dalam wujud yang bisa dilihat. Karena sejak kecil terbiasa dengan tekanan hidup, sehingga aku kurang berani mengekspresikan diri secara jujur lewat raut muka. Bahkan aku terbiasa menampilkan diri dalam wujud sebaliknya dari apa yang sebenarnya sedang aku rasakan. Satu-satunya cara aku bisa jujur hanya dengan lukisan dan gambar-gambar. Melalui coretan-coretan itu aku mengungkapkan perasaan secara jujur dan berani.
Mari kita sedikit bicara soal latar belakang penulis. Aku terlahir sebagai anak bungsu dalam keluarga yang tidak begitu harmonis. Ayah dan ibu sering sekali cek-cok. Aku juga sering menangis sembunyi-sembunyi. Sehingga aku berkesimpulan bahwa lukisan itu menggambarkan situasi dan perasaanku ketika membuatnya. Ketika itu sekitar tahun 2014, tahun keduaku di bangku kuliah. Februari sepertinya awal semester genap. Tepatnya aku berada di semester 4.
Saat itu aku mengalami masa-masa sulit. Aku menghabiskan uang ibu untuk membeli sebuah kamera DSLR yang tak kunjung datang. Ya, aku ditipu, sepertinya. Sudah kulunasi, tapi barangnya tak juga sampai. Bagiku itu bukan uang yang sedikit. Karenanya aku diliputi rasa sesal yang teramat dalam. Benar-benar merasa bersalah dan kecewa, entah bagaimana menjelaskannya kepada ibu. Saat itu aku menyembunyikan semuanya. Aku pun sempat mengalami insomnia parah. Benar-benar depresi.
Itulah kira-kira yang terjadi di balik lukisan "Tangisan Putri" itu. Semoga bisa memotivasi orang lain. Bahwa ketika kita dalam tekanan hebat sekalipun, jangan pernah ragu untuk berkarya. Berkaryalah sebebas-bebasnya. Karena kebebasan akan mengajarkanmu arti tanggung jawab.
Komentar
Posting Komentar