Langsung ke konten utama

Pancasila yang Mana?

1 Juni 1945 diperingati sebagai hari Lahirnya Pancasila. Semua instansi, badan atau asosiasi mengaung-ngaungkannya dalam bentuk desain bernuansa patriotisme. Lambang negara kemudian dipajang dimana-mana, ucapan selamat bertebaran di media sosial. Seperti droplet yang terpancar saat kita bersin. Beterbangan melayang tak tentu arah dan hinggap entah dimana, lantas dengan mudahnya diusap tangan atau tisu dan dilupakan. Ingatan soal Pancasila pun lambat laun semakin memudar, kelahirannya sekedar menjadi peringatan tahunan, yang disenangi anak-anak karena memiliki satu arti "tanggal merah tandanya libur", tidak beresensi.


Jika saja Bung Karno, Hatta, Maramis, Tjokrosoejoso, Kahar Moezakir, Soebardjo, Wahid Hasjim, Agus Salim, dan Bung Yamin masih hidup, mereka akan mencari-cari kemana Pancasila diasingkan? Mengapa yang ada tinggal kelatahan formalitas ucapan-ucapan kosong tanpa upaya pengamalan. 

Di tengah ingar bingar kekuasaan yang menitikberatkan kepentingan politik sebagai fokus kebijakan, falsafah negara tinggal gombalan. Digunakan jika bisa mendukung praktik-praktik kepentingan atau justru dijadikan senjata untuk citra belaka, mereka sering berkata "Saya Pancasila" atau "Ideologi saya Pancasila". Semua bisa bilang hal yang sama, namun apa pentingnya berkoar-koar demikian, jika apa yang ada dalam lima sila tersebut jangankan diamalkan dalam kehidupan bernegara, dipahami saja tidak.

Panitia sembilan pun akan bersedih, jika mereka tahu apa yang terjadi kemarin. Jika saja mereka melihat, bagaimana bangsa ini dengan konyolnya mengadu Pancasila dengan keyakinan religius dalam sebuah agama. Begitu lancangnya demi kekuasaan. Bagaimana bisa mengadu dua hal yang tidak semestinya dipertandingkan. Mengadu dua hal yang tidak bertentangan. Mencari-cari celah agar bisa memperdebatkan dan memaksa kita memilih demi kata "persatuan" katanya. Ketika kita bisa menjalankan dua hal sekaligus dikarenakan tidak ada pertentangan diantaranya, mengapa kita harus memilih salah satu saja?  Lagi pula, sila Pancasila yang mana yang memaksa kita memilih antara Tuhan dan Negara?

Terlepas dari itu, fitnah pun sempat meliputi negeri yang kita cintai ini. Ngeri. Bahkan hingga hari ini. Keadilan dan keberadaban semakin kabur dan menyesatkan. Kemanusiaan? Jangan ditanya! Kita diberi keadaan yang memaksa kita menutup mata, telinga dan nurani. Atas dasar ketidakberdayaan itulah kita pun bersembunyi di balik selimut ketidakpeduliaan. Mengalihkan diri menghukum orang-orang dengan dogma pribadi. "Dia harusnya tidak begini", "Dia harusnya begitu", "Dia tidak tahu malu". Hakim di Indonesia banyak, banyak yang tidak punya lisensi, mereka ada bersama ketidaksiapan menerima teknologi. Ramai main hakim sendiri, terhegemoni dalam kehidupan keviral-viralan lewat jempol-jempol tidak bertanggung jawab. Sila Pancasila yang mana yang menggambarkan keadilan dan adab semacam itu?

Namun, kelemahan-kelemahan ini seyogyanya dibenahi. Bukan menjadi perdebatan abadi tentang bagaimana seharusnya ini bagaimana seharusnya itu.  Lantas bila tidak sejalan, kita memilih saling menjatuhkan. Sila Pancasila yang mana yang menjadi dasar perpecahan? Begitu ironis rasanya, ketika pancasila dijadikan senjata untuk memecah bangsa yang mana semakin parah tiap kali pesta demokrasi tiba. Padahal ada cita-cita luhur di balik rumusan lima sila dalam Pancasila yang salah satunya adalah Persatuan Indonesia. 

Lucu, sedih, kecewa, marah Menyaksikan komedi gelap bangsa yang dicinta. Semoga saja Pancasila masih bisa terpatri dan mekar di sanubari manusia-manusia Indonesia, anak-anak nusantara. Semoga saja Pancasila tidak bernasib sama dengan para lansia yang ditinggalkan anaknya di panti jompo dalam tua dan rentanya.

Barangkali ada yang sudah lupa, begini isi Pancasila:

PANCASILA
  1. KETUHANAN YANG MAHA ESA
  2. KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB
  3. PERSATUAN INDONESIA
  4. KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN/PERWAKILAN
  5. KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menunggu

22.05.2020 Hallo. Kali ini aku kembali memposting cerita di balik lukisan. Lukisan kali ini bukan lukisan lama, tapi justru lukisanku yang paling baru. Media yang aku gunakan adalah dinding kamar yang belum dicat. Lukisan ini menggunakan cat akrilik tanpa campuran air dengan menggunakan kuas. Jika kita melihatnya sekilas, lukisan ini menyerupai pohon. Kakak iparku saat pertama kali melihatnya langsung menyimpulkan bahwa itu adalah pohon terbalik. Ada juga teman yang berpikir itu adalah dua pohon yang berbeda. Tidak masalah. Semua orang bebas memberi makna pada apa yang mereka lihat. Tapi sejujurnya lukisan ini adalah ekspresi kegagalan. Biar aku ceritakan detailnya kenapa lukisan ini bisa terwujud. Saat itu tanggal 21 Mei 2020, waktu menunjukkan kurang lebih pukul 11 malam. Aku sedang berusaha mengunggah beberapa video di google Drive. Tapi karena jaringan internet yang tidak begitu bagus, maka aku harus menunggu cukup lama. Sambil menunggu, aku berusaha menghibur diri juga berupaya me...

02. Renyah

Maba, akronim dari mahasiswa baru. Ketika kata "baru" disematkan, maka ada antusiasme yang mengikutinya. Begitu juga status maba yang kami sandang. Rasanya, semangat belajar sedang berkobar-kobarnya. Rasa ingin menjadi agen of change memaksa diri untuk berpikir kritis, sekedar agar bisa dianggap mahasiswa sejati. Dosen kadang tidak masuk. Membuat semangat belajar ini tidak bisa tersalurkan. Ada dua tipikal mahasiswa, mereka yang kritis atau ingin dianggap begitu, akan mengeluh dan mengungkapkan kepada yang lain bahwa dia merasa rugi sudah bayar SPP. Sementara golongan lain yang masih belum bisa melepaskan kebiasaannya di SMA, atau mereka yang tidak peduli dengan image kritis dan lain-lain itu justru akan bahagia. Saya sendiri memilih menjadi bunglon. Kepada mereka yang kritis, saya sepakat. Tapi kepada mereka yang tidak peduli, saya sepaket. Begitulah jiwa dan pikiranku memilih bercerai. Beruntung imajinasi tidak pernah meninggalkan diriku, jadi perceraian jiwa dan pikiran t...

Tugas Resume MK Komunikasi Politik

BAB V MEDIA POLITIK: SALURAN MASSA, INTERPERSONAL, DAN ORGANISASI Alat atau upaya yang yang digunakan untuk mengirimkan pesan ialah saluran dari ‘siapa mengatakan apa kepada siapa’. SALURAN KOMUNIKASI POLITIK Saluran komunikasi adalah alat serta sarana yang memudahkan penyampaian pesan. Menurut pendapat Kenneth Burke, saluran adalah ciptaan makhluk pemakai lambang untuk melancarkan saling tukar pesan. Saluran di sini bukan hanya alat dan sarana, tetapi juga manusia itu sendiri. Berbeda dengan saluran lain, manusia merupakan saluran yang aktif, selektif, tidak pasif dan netral. Otak manusia menyandikan kembali dan mentransformasi pesan, bukan mekanisme untuk pengalihan bersambung yang sederhana. Alat dan sarana berguna untuk memudahkan tapi bukan untuk menjamin ketepatan. Sebaliknya, bila dipikirkan bahwa pada dasarnya manusia juga adalah sarana, “maka saluran komunikasi itu lebih dari sekedar titik sambungan, tetapi terdiri atas pengertian bersama tentang siapa dapat ber...