Langit biru yang kurindu. Gambar ini mungkin biasa saja bagi orang lain. Tapi bagiku ini istimewa. Aku menangkap gambar ini saat musim hujan. Sebuah pemandangan yang tidak bisa lama dinikmati di musim hujan.
Bulan Juni sampai Juli 2020, langit Kota Palu seringnya berawan dan turun hujan. Langit biru bukan tidak muncul sama sekali, dia kadang ada, tapi tidak lama. Biasanya kan selalu terhampar di atas sana, biru cerah yang ditemani silaunya terik matahari. Kehangatan yang menjalar di sekujur tubuh saat naik motor. Aku mana bisa lupa.
Jadi rindu "hangat"-nya Kota Palu, yang bagi mayoritas orang akan disebut "panas". Sengatan matahari yang menemani hampir sepanjang tahun, membuatku terbiasa. Sekalinya matahari sembunyi di balik awan, rasanya jadi sangat aneh. Seperti ada yang berubah, ada yang kurang. Cucian juga jadi susah kering. Haha, malah bahas cucian.
Aku sangat menyukai kota ini. Gunung, laut, sungai dan bukit, semuanya menyatu dalam satu lansekap yang bagiku akan terlihat lebih indah jika disandingkan dengan langit birunya. Kemana pun aku pergi, rasanya ingin cepat pulang. Palu seperti pelukan. Hangat dan menenangkan. Padahal orang Palu tidak setenang itu sih. Suara orang Palu tinggi-tinggi, soal aksen juga jauh dari kata halus. Tapi, tanah ini, udara ini, semuanya terasa hangat. Mau bagaimana lagi, aku terlanjur menjadikannya rumah. Tidak ada tempat terbaik untuk pulang, tidak ada tempat ternyaman untuk menetap, selain rumah.
Komentar
Posting Komentar