Sekitar akhir Agustus dan awal September 2012
Apa yang kuharapkan? kenapa kuliah? Ilmu mungkin alasan naif yang masih kupercayai saat itu. Bonusnya, aku senang, bisa bertemu orang-orang baru. Karena dari SD sampai SMA lingkaran pertemananku tidak banyak berubah. Mungkin ini kesempatan untuk menjadi pribadi yang baru, tanpa ada yang tahu pribadiku yang lama. Pribadi macam apa yang akan kubuat. Aku merancangnya sambil mengunyah batagor terakhirku. Mungkin jadi pribadi yang ramah akan terasa menyenangkan. Mengingat sebelumnya aku sudah terlalu jutek.
Bgaimana aku memulainya? Menegur seseorang, sepertinya itu harus. Atau terlibat dalam percakapan orang-orang di sekitar. Atau mencoba lebih peduli pada orang lain. Semua itu terdengar lebih masuk akal daripada sekedar tersenyum.
Rencananya begitu. Tapi kenyataan selalu saja berbeda. Aku sudah jutek selama 12 tahun, bagaimana mungkin berubah begitu saja hanya karena lingkungan dan orang-orang yang kutemui berbeda. Alhasil, aku tidak seramah yang kurencanakan. Sesekali aku berhasil, tapi hanya kepada orang-orang yang terlihat tertutup. Ya, entah mengapa ramah kepada orang yang ramah juga rasanya cukup sulit dan justru terasa mengintimidasi. Anehnya, kepada mereka yang terlihat sedikit bicara, aku lebih tertarik untuk menyapa. Sementara beberapa kali suguhan sikap ramah orang-orang kulewatkan begitu saja, tanpa sambutan yang sepadan. Itu membuatku terlihat sedikit sombong. Padahal aku hanya belum mengerti reaksi apa yang harus ditunjukkan ketika kita disuguhi keramahan yang begitu banyak.
***
"Inu...!" Terdengar suara samar dari kejauhan.
"INU!" Kali ini cukup nyolot, suara yang tidak asing memanggilku dengan sedikit terlalu antusias. Tidak ada orang lain seantusias Aida. Suaranya yang khas tidak mungkin kulupa. Terlalu ceria untuk telingaku yang agak pekak.
"INU!" Sapanya lagi.
Aku menoleh setelah menancapkan lidi pada siomai incaranku.
"Apa?" Tanyaku.
Beberapa orang terlihat terkejut saat aku menyahuti sumber suara yang memanggilku itu. Tapi kuabaikan, aku cukup terbiasa pada orang-orang yang menganggap nama panggilanku kurang lazim. Terutama untuk mereka para golongan wibu.
"Inu? Lu apanya Kagome?" Seorang wibu bertanya spontan padaku sepertinya.
"Tetangganya." Jawabku spontan tanpa pikir panjang, sekedar menutup percakapan yang tidak ingin kumulai dengan orang asing. Untung saja Aida tiba tepat pada waktunya.
"Inu, sudah tugasmu?" Pertanyaan Aida menggelitik ingatanku yang agak memudar, seketika itu aku ingat bahwa ada tugas. Sambil terus mengunyah, aku menggali ingatan soal tugas yang dia maksud.
"Sudah."
Bersambung...
Komentar
Posting Komentar