Langsung ke konten utama

01. Batagor, Rencana, Siomai & Ingatan

Sekitar akhir Agustus dan awal September 2012

Ilalang menguning tergambar di hadapanku, dikelilingi aspal yang terlihat seperti genangan air saking panasnya cuaca hari ini. Kukunyah satu persatu potongan batagor dari piringku sambil menatap kosong ke depan. Menikmati setiap makanan yang hanya satu atau dua kali kunyah, lalu tertelan dengan sendirinya. Tahun ajaran baru. "Jadi, ini rasanya kuliah?" Bantinku. Setelah kupikirkan lagi, aku membuat sebuah kesimpulan bahwa rasanya cukup renyah. Batagor? Ya. Kuliah? Ya. Dua-duanya renyah. Sejauh ini belum begitu mengenyangkan. Mungkin karena masih permulaan.

Apa yang kuharapkan? kenapa kuliah? Ilmu mungkin alasan naif yang masih kupercayai saat itu. Bonusnya, aku senang, bisa bertemu orang-orang baru. Karena dari SD sampai SMA lingkaran pertemananku tidak banyak berubah. Mungkin ini kesempatan untuk menjadi pribadi yang baru, tanpa ada yang tahu pribadiku yang lama. Pribadi macam apa yang akan kubuat. Aku merancangnya sambil mengunyah batagor terakhirku. Mungkin jadi pribadi yang ramah akan terasa menyenangkan. Mengingat sebelumnya aku sudah terlalu jutek

Bgaimana aku memulainya? Menegur seseorang, sepertinya itu harus. Atau terlibat dalam percakapan orang-orang di sekitar. Atau mencoba lebih peduli pada orang lain. Semua itu terdengar lebih masuk akal daripada sekedar tersenyum. 

Rencananya begitu. Tapi kenyataan selalu saja berbeda. Aku sudah jutek selama 12 tahun, bagaimana mungkin berubah begitu saja hanya karena lingkungan dan orang-orang yang kutemui berbeda. Alhasil, aku tidak seramah yang kurencanakan. Sesekali aku berhasil, tapi hanya kepada orang-orang yang terlihat tertutup. Ya, entah mengapa ramah kepada orang yang ramah juga rasanya cukup sulit dan justru terasa mengintimidasi. Anehnya, kepada mereka yang terlihat sedikit bicara, aku lebih tertarik untuk menyapa. Sementara beberapa kali suguhan sikap ramah orang-orang kulewatkan begitu saja, tanpa sambutan yang sepadan. Itu membuatku terlihat sedikit sombong. Padahal aku hanya belum mengerti reaksi apa yang harus ditunjukkan ketika kita disuguhi keramahan yang begitu banyak.

***

"Inu...!" Terdengar suara samar dari kejauhan.
"INU!" Kali ini cukup nyolot, suara yang tidak asing memanggilku dengan sedikit terlalu antusias. Tidak ada orang lain seantusias Aida. Suaranya yang khas tidak mungkin kulupa. Terlalu ceria untuk telingaku yang agak pekak.
"INU!" Sapanya lagi.
Aku menoleh setelah menancapkan lidi pada siomai incaranku. 
"Apa?" Tanyaku.
Beberapa orang terlihat terkejut saat aku menyahuti sumber suara yang memanggilku itu. Tapi kuabaikan, aku cukup terbiasa pada orang-orang yang menganggap nama panggilanku kurang lazim. Terutama untuk mereka para golongan wibu.
"Inu? Lu apanya Kagome?" Seorang wibu bertanya spontan padaku sepertinya.
"Tetangganya." Jawabku spontan tanpa pikir panjang, sekedar menutup percakapan yang tidak ingin kumulai dengan orang asing. Untung saja Aida tiba tepat pada waktunya.

"Inu, sudah tugasmu?" Pertanyaan Aida menggelitik ingatanku yang agak memudar, seketika itu aku ingat bahwa ada tugas. Sambil terus mengunyah, aku menggali ingatan soal tugas yang dia maksud. 
"Sudah."

Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menunggu

22.05.2020 Hallo. Kali ini aku kembali memposting cerita di balik lukisan. Lukisan kali ini bukan lukisan lama, tapi justru lukisanku yang paling baru. Media yang aku gunakan adalah dinding kamar yang belum dicat. Lukisan ini menggunakan cat akrilik tanpa campuran air dengan menggunakan kuas. Jika kita melihatnya sekilas, lukisan ini menyerupai pohon. Kakak iparku saat pertama kali melihatnya langsung menyimpulkan bahwa itu adalah pohon terbalik. Ada juga teman yang berpikir itu adalah dua pohon yang berbeda. Tidak masalah. Semua orang bebas memberi makna pada apa yang mereka lihat. Tapi sejujurnya lukisan ini adalah ekspresi kegagalan. Biar aku ceritakan detailnya kenapa lukisan ini bisa terwujud. Saat itu tanggal 21 Mei 2020, waktu menunjukkan kurang lebih pukul 11 malam. Aku sedang berusaha mengunggah beberapa video di google Drive. Tapi karena jaringan internet yang tidak begitu bagus, maka aku harus menunggu cukup lama. Sambil menunggu, aku berusaha menghibur diri juga berupaya me...

02. Renyah

Maba, akronim dari mahasiswa baru. Ketika kata "baru" disematkan, maka ada antusiasme yang mengikutinya. Begitu juga status maba yang kami sandang. Rasanya, semangat belajar sedang berkobar-kobarnya. Rasa ingin menjadi agen of change memaksa diri untuk berpikir kritis, sekedar agar bisa dianggap mahasiswa sejati. Dosen kadang tidak masuk. Membuat semangat belajar ini tidak bisa tersalurkan. Ada dua tipikal mahasiswa, mereka yang kritis atau ingin dianggap begitu, akan mengeluh dan mengungkapkan kepada yang lain bahwa dia merasa rugi sudah bayar SPP. Sementara golongan lain yang masih belum bisa melepaskan kebiasaannya di SMA, atau mereka yang tidak peduli dengan image kritis dan lain-lain itu justru akan bahagia. Saya sendiri memilih menjadi bunglon. Kepada mereka yang kritis, saya sepakat. Tapi kepada mereka yang tidak peduli, saya sepaket. Begitulah jiwa dan pikiranku memilih bercerai. Beruntung imajinasi tidak pernah meninggalkan diriku, jadi perceraian jiwa dan pikiran t...

Tugas Resume MK Komunikasi Politik

BAB V MEDIA POLITIK: SALURAN MASSA, INTERPERSONAL, DAN ORGANISASI Alat atau upaya yang yang digunakan untuk mengirimkan pesan ialah saluran dari ‘siapa mengatakan apa kepada siapa’. SALURAN KOMUNIKASI POLITIK Saluran komunikasi adalah alat serta sarana yang memudahkan penyampaian pesan. Menurut pendapat Kenneth Burke, saluran adalah ciptaan makhluk pemakai lambang untuk melancarkan saling tukar pesan. Saluran di sini bukan hanya alat dan sarana, tetapi juga manusia itu sendiri. Berbeda dengan saluran lain, manusia merupakan saluran yang aktif, selektif, tidak pasif dan netral. Otak manusia menyandikan kembali dan mentransformasi pesan, bukan mekanisme untuk pengalihan bersambung yang sederhana. Alat dan sarana berguna untuk memudahkan tapi bukan untuk menjamin ketepatan. Sebaliknya, bila dipikirkan bahwa pada dasarnya manusia juga adalah sarana, “maka saluran komunikasi itu lebih dari sekedar titik sambungan, tetapi terdiri atas pengertian bersama tentang siapa dapat ber...