Langsung ke konten utama

Dunia menjadi Desa Kecil

Kehidupan kota dan desa dulu sering dibanding-bandingkan. Dulu, waktu internet belum menyentuh kamar anak Sekolah Dasar yang tinggal di Dusun. Kita bisa bilang bahwa kehidupan kota sangat individualis, sedangkan desa sebaliknya. Sekarang, di kota atau di desa, semuanya sama. Dunia ini jadi terasa semakin kecil, sumpek. Kita, masyarakat, berubah secara norma dan nilai-nilai sosial. Menjadi acuh sekaligus terlalu peduli. Acuh dalam artian kurang mampu berempati. Terlalu peduli dalam artian senantiasa memberi komentar terhadap urusan orang lain, meskipun itu sifatnya privasi. Bukan bermaksud menyalahkan siapa-siapa. Saya hanya mencoba menggambarkan peliknya permasalahan sosial saat ini, tentang betapa kompleksnya perubahan yang sedang melingkupi masyarakat global.

Kebebasan dan keleluasaan sepertinya membuat etika semakin dikesampingkan. Apa yang mengatur masyarakat sesungguhnya adalah nilai dan norma yang dipegang teguh dan dipercaya. Tapi ketika norma dan nilai-nilai itu berubah, maka kehidupan juga berubah. Jika kita mau mengingat kembali sejarah peradaban manusia, maka perubahan ini sesungguhnya sudah berlangsung untuk waktu yang lama. Maka bisa dipandang wajar jika terjadi perubahan gaya hidup di masyarakat. Tetapi tidak semudah itu. Pada kenyataanya, perubahan tidak selalu berjalan lancar. Banyak ketimpangan dan perdebatan yang mendahului diterimanya sebuah pandangan hidup apalagi jika itu akan dipergunakan secara luas. Sumber permasalahan yang menyebabkan ketimpangan ini adalah sudut pandang dari masing-masing generasi.

Orang-orang tua dan anak-anak yang dididik dalam lingkungan yang memegang teguh budaya dan adat istiadat mungkin bisa mempertahankan nilai-nilai sosial budayanya sendiri. Namun kemungkinan lain adalah mereka menentang peradaban ini. Kita tidak bisa menyalahkan orang-orang yang menentang peradaban saat ini. Mereka punya tujuan mulia yang diperjuangkan dan rasa takut yang sedang merisak ketentramannya dalam kehidupan berbudaya. Tidak bisa dipandang sebelah mata, ketakutan-ketakutan itu telah terbukti dan nyata. Anak-anak lebih mengenal para influencer dunia maya ketimbang nenek buyutnya sendiri. Remaja lebih tertarik mengetahui perkembangan hubungan asmara para idolanya, ketimbang mengetahui sejarah keluarganya sendiri. Orang-orang muda lebih senang menatap layar ponsel mereka ketimbang mata lawan bicaranya. Inilah peradaban yang sedang kita lalui.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menunggu

22.05.2020 Hallo. Kali ini aku kembali memposting cerita di balik lukisan. Lukisan kali ini bukan lukisan lama, tapi justru lukisanku yang paling baru. Media yang aku gunakan adalah dinding kamar yang belum dicat. Lukisan ini menggunakan cat akrilik tanpa campuran air dengan menggunakan kuas. Jika kita melihatnya sekilas, lukisan ini menyerupai pohon. Kakak iparku saat pertama kali melihatnya langsung menyimpulkan bahwa itu adalah pohon terbalik. Ada juga teman yang berpikir itu adalah dua pohon yang berbeda. Tidak masalah. Semua orang bebas memberi makna pada apa yang mereka lihat. Tapi sejujurnya lukisan ini adalah ekspresi kegagalan. Biar aku ceritakan detailnya kenapa lukisan ini bisa terwujud. Saat itu tanggal 21 Mei 2020, waktu menunjukkan kurang lebih pukul 11 malam. Aku sedang berusaha mengunggah beberapa video di google Drive. Tapi karena jaringan internet yang tidak begitu bagus, maka aku harus menunggu cukup lama. Sambil menunggu, aku berusaha menghibur diri juga berupaya me...

02. Renyah

Maba, akronim dari mahasiswa baru. Ketika kata "baru" disematkan, maka ada antusiasme yang mengikutinya. Begitu juga status maba yang kami sandang. Rasanya, semangat belajar sedang berkobar-kobarnya. Rasa ingin menjadi agen of change memaksa diri untuk berpikir kritis, sekedar agar bisa dianggap mahasiswa sejati. Dosen kadang tidak masuk. Membuat semangat belajar ini tidak bisa tersalurkan. Ada dua tipikal mahasiswa, mereka yang kritis atau ingin dianggap begitu, akan mengeluh dan mengungkapkan kepada yang lain bahwa dia merasa rugi sudah bayar SPP. Sementara golongan lain yang masih belum bisa melepaskan kebiasaannya di SMA, atau mereka yang tidak peduli dengan image kritis dan lain-lain itu justru akan bahagia. Saya sendiri memilih menjadi bunglon. Kepada mereka yang kritis, saya sepakat. Tapi kepada mereka yang tidak peduli, saya sepaket. Begitulah jiwa dan pikiranku memilih bercerai. Beruntung imajinasi tidak pernah meninggalkan diriku, jadi perceraian jiwa dan pikiran t...

Tugas Resume MK Komunikasi Politik

BAB V MEDIA POLITIK: SALURAN MASSA, INTERPERSONAL, DAN ORGANISASI Alat atau upaya yang yang digunakan untuk mengirimkan pesan ialah saluran dari ‘siapa mengatakan apa kepada siapa’. SALURAN KOMUNIKASI POLITIK Saluran komunikasi adalah alat serta sarana yang memudahkan penyampaian pesan. Menurut pendapat Kenneth Burke, saluran adalah ciptaan makhluk pemakai lambang untuk melancarkan saling tukar pesan. Saluran di sini bukan hanya alat dan sarana, tetapi juga manusia itu sendiri. Berbeda dengan saluran lain, manusia merupakan saluran yang aktif, selektif, tidak pasif dan netral. Otak manusia menyandikan kembali dan mentransformasi pesan, bukan mekanisme untuk pengalihan bersambung yang sederhana. Alat dan sarana berguna untuk memudahkan tapi bukan untuk menjamin ketepatan. Sebaliknya, bila dipikirkan bahwa pada dasarnya manusia juga adalah sarana, “maka saluran komunikasi itu lebih dari sekedar titik sambungan, tetapi terdiri atas pengertian bersama tentang siapa dapat ber...