Kehidupan kota dan desa dulu sering dibanding-bandingkan. Dulu, waktu internet belum menyentuh kamar anak Sekolah Dasar yang tinggal di Dusun. Kita bisa bilang bahwa kehidupan kota sangat individualis, sedangkan desa sebaliknya. Sekarang, di kota atau di desa, semuanya sama. Dunia ini jadi terasa semakin kecil, sumpek. Kita, masyarakat, berubah secara norma dan nilai-nilai sosial. Menjadi acuh sekaligus terlalu peduli. Acuh dalam artian kurang mampu berempati. Terlalu peduli dalam artian senantiasa memberi komentar terhadap urusan orang lain, meskipun itu sifatnya privasi. Bukan bermaksud menyalahkan siapa-siapa. Saya hanya mencoba menggambarkan peliknya permasalahan sosial saat ini, tentang betapa kompleksnya perubahan yang sedang melingkupi masyarakat global. Kebebasan dan keleluasaan sepertinya membuat etika semakin dikesampingkan. Apa yang mengatur masyarakat sesungguhnya adalah nilai dan norma yang dipegang teguh dan dipercaya. Tapi ketika norma dan nilai-nilai itu berubah, maka k...
Maba, akronim dari mahasiswa baru. Ketika kata "baru" disematkan, maka ada antusiasme yang mengikutinya. Begitu juga status maba yang kami sandang. Rasanya, semangat belajar sedang berkobar-kobarnya. Rasa ingin menjadi agen of change memaksa diri untuk berpikir kritis, sekedar agar bisa dianggap mahasiswa sejati. Dosen kadang tidak masuk. Membuat semangat belajar ini tidak bisa tersalurkan. Ada dua tipikal mahasiswa, mereka yang kritis atau ingin dianggap begitu, akan mengeluh dan mengungkapkan kepada yang lain bahwa dia merasa rugi sudah bayar SPP. Sementara golongan lain yang masih belum bisa melepaskan kebiasaannya di SMA, atau mereka yang tidak peduli dengan image kritis dan lain-lain itu justru akan bahagia. Saya sendiri memilih menjadi bunglon. Kepada mereka yang kritis, saya sepakat. Tapi kepada mereka yang tidak peduli, saya sepaket. Begitulah jiwa dan pikiranku memilih bercerai. Beruntung imajinasi tidak pernah meninggalkan diriku, jadi perceraian jiwa dan pikiran t...