Langsung ke konten utama

Postingan

02. Renyah

Maba, akronim dari mahasiswa baru. Ketika kata "baru" disematkan, maka ada antusiasme yang mengikutinya. Begitu juga status maba yang kami sandang. Rasanya, semangat belajar sedang berkobar-kobarnya. Rasa ingin menjadi agen of change memaksa diri untuk berpikir kritis, sekedar agar bisa dianggap mahasiswa sejati. Dosen kadang tidak masuk. Membuat semangat belajar ini tidak bisa tersalurkan. Ada dua tipikal mahasiswa, mereka yang kritis atau ingin dianggap begitu, akan mengeluh dan mengungkapkan kepada yang lain bahwa dia merasa rugi sudah bayar SPP. Sementara golongan lain yang masih belum bisa melepaskan kebiasaannya di SMA, atau mereka yang tidak peduli dengan image kritis dan lain-lain itu justru akan bahagia. Saya sendiri memilih menjadi bunglon. Kepada mereka yang kritis, saya sepakat. Tapi kepada mereka yang tidak peduli, saya sepaket. Begitulah jiwa dan pikiranku memilih bercerai. Beruntung imajinasi tidak pernah meninggalkan diriku, jadi perceraian jiwa dan pikiran t...

01. Batagor, Rencana, Siomai & Ingatan

Sekitar akhir Agustus dan awal September 2012 Ilalang menguning tergambar di hadapanku, dikelilingi aspal yang terlihat seperti genangan air saking panasnya cuaca hari ini. Kukunyah satu persatu potongan batagor dari piringku sambil menatap kosong ke depan. Menikmati setiap makanan yang hanya satu atau dua kali kunyah, lalu tertelan dengan sendirinya. Tahun ajaran baru. "Jadi, ini rasanya kuliah?" Bantinku. Setelah kupikirkan lagi, aku membuat sebuah kesimpulan bahwa rasanya cukup renyah. Batagor? Ya. Kuliah? Ya. Dua-duanya renyah. Sejauh ini belum begitu mengenyangkan. Mungkin karena masih permulaan. Apa yang kuharapkan? kenapa kuliah? Ilmu mungkin alasan naif yang masih kupercayai saat itu. Bonusnya, aku senang, bisa bertemu orang-orang baru. Karena dari SD sampai SMA lingkaran pertemananku tidak banyak berubah. Mungkin ini kesempatan untuk menjadi pribadi yang baru, tanpa ada yang tahu pribadiku yang lama. Pribadi macam apa yang akan kubuat. Aku merancangnya sambil menguny...

Rindu Hangat Pelukmu

Langit biru yang kurindu. Gambar ini mungkin biasa saja bagi orang lain. Tapi bagiku ini istimewa. Aku menangkap gambar ini saat musim hujan. Sebuah pemandangan yang tidak bisa lama dinikmati di musim hujan. Bulan Juni sampai Juli 2020, langit Kota Palu seringnya berawan dan turun hujan. Langit biru bukan tidak muncul sama sekali, dia kadang ada, tapi tidak lama. Biasanya kan selalu terhampar di atas sana, biru cerah yang ditemani silaunya terik matahari. Kehangatan yang menjalar di sekujur tubuh saat naik motor. Aku mana bisa lupa. Jadi rindu "hangat"-nya Kota Palu, yang bagi mayoritas orang akan disebut "panas". Sengatan matahari yang menemani hampir sepanjang tahun, membuatku terbiasa. Sekalinya matahari sembunyi di balik awan, rasanya jadi sangat aneh. Seperti ada yang berubah, ada yang kurang. Cucian juga jadi susah kering. Haha, malah bahas cucian. Aku sangat menyukai kota ini. Gunung, laut, sungai dan bukit, semuanya menyatu dalam satu lansekap ya...

Jatuh Cinta & Perubahan Emosi

Jatuh cinta. Sebuah frasa yang menggambarkan kecerobohan, rasa sakit, kasih serta sayang. Emosi dan keterlibatan obsesi menambah daftar dramatisasi sensasi farasa ini. Sedikit melenceng dari perspektif orang yang sedang jatuh cinta, penulis ingin menjelaskan secara ilmiah bagaimana manusia merasakan jatuh cinta. Meskipun fenomena jatuh cinta itu sering disebut sebagai sesuatu yang tidak berdasar secara logika. Tapi pada kenyataannya proses jatuh cinta sangatlah ilmiah yang dengan kata lain adalah logis. Jatuh cinta melibatkan hormon dan syaraf serta berkaitan erat dengan kondisi biologis seseorang. Agar menjadi mudah untuk dipahami, penulis akan membagi tahapan jatuh cinta kedalam 3 bagian penting: Pra Jatuh Cinta Apa yang terjadi sebelum jatuh cinta? Ada proses penbentukan sensasi atas sebuah penerimaan rangsangan pada reseptor individu. Ransangan ini bisa berwujud suara, gerakan, sentuhan, cita rasa, atau aroma. Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa panca indra menjadi bagian yang ...

Pancasila yang Mana?

1 Juni 1945 diperingati sebagai hari Lahirnya Pancasila. Semua instansi, badan atau asosiasi mengaung-ngaungkannya dalam bentuk desain bernuansa patriotisme. Lambang negara kemudian dipajang dimana-mana, ucapan selamat bertebaran di media sosial. Seperti droplet yang terpancar saat kita bersin. Beterbangan melayang tak tentu arah dan hinggap entah dimana, lantas dengan mudahnya diusap tangan atau tisu dan dilupakan. Ingatan soal Pancasila pun lambat laun semakin memudar, kelahirannya sekedar menjadi peringatan tahunan, yang disenangi anak-anak karena memiliki satu arti "tanggal merah tandanya libur", tidak beresensi. Sumber: dosenpendidikan.co.id Jika saja Bung Karno, Hatta, Maramis, Tjokrosoejoso, Kahar Moezakir, Soebardjo, Wahid Hasjim, Agus Salim, dan Bung Yamin masih hidup, mereka akan mencari-cari kemana Pancasila diasingkan? Mengapa yang ada tinggal kelatahan formalitas ucapan-ucapan kosong tanpa upaya pengamalan.  Di tengah ingar bingar kekuasaan yang menitikberatkan ...

Menunggu

22.05.2020 Hallo. Kali ini aku kembali memposting cerita di balik lukisan. Lukisan kali ini bukan lukisan lama, tapi justru lukisanku yang paling baru. Media yang aku gunakan adalah dinding kamar yang belum dicat. Lukisan ini menggunakan cat akrilik tanpa campuran air dengan menggunakan kuas. Jika kita melihatnya sekilas, lukisan ini menyerupai pohon. Kakak iparku saat pertama kali melihatnya langsung menyimpulkan bahwa itu adalah pohon terbalik. Ada juga teman yang berpikir itu adalah dua pohon yang berbeda. Tidak masalah. Semua orang bebas memberi makna pada apa yang mereka lihat. Tapi sejujurnya lukisan ini adalah ekspresi kegagalan. Biar aku ceritakan detailnya kenapa lukisan ini bisa terwujud. Saat itu tanggal 21 Mei 2020, waktu menunjukkan kurang lebih pukul 11 malam. Aku sedang berusaha mengunggah beberapa video di google Drive. Tapi karena jaringan internet yang tidak begitu bagus, maka aku harus menunggu cukup lama. Sambil menunggu, aku berusaha menghibur diri juga berupaya me...

Tangisan Putri

Tangisan Putri 22.02.2014 Aku sudah lupa kapan tepatnya lukisan ini kubuat. Tapi berdasarkan riwayat publishnya, karya ini pertama kali aku publish pada 22 Februari 2014 pada akun Google+. Sayangnya Google+ sudah RIP. Tapi aku bersyukur, Google masih menyimpan cadangan foto-foto yang pernah aku post di sana. Salah satunya lukisan ini, yang tidak pernah aku beri nama. Tapi hari ini aku pikir mungkin sebaiknya lukisan ini kuberi nama dan yang terpikirkan saat melihatnya lagi adalah "Tangisan Putri". Kalau dipikir-pikir, ini hanya sebuah lukisan bernuansa abu-abu yang memperlihatkan sesosok anak kecil sedang duduk menyembunyikan wajahnya di balik lutut dan lengannya. Rambutnya panjang. Tidak ada yang benar-benar tahu apa dia sedang menangis atau tidak. Tidak ada yang benar-benar tahu apa dia seorang anak perempuan atau laki-laki. Tapi karena ini karyaku, jadi kuputuskan menganggapnya seorang putri dan sedang menangis. Putri yang dimaksudkan di sini adalah anak perempuan, bukan p...